Becak Coba Bawa Saya

Ada korelasi yang erat antara ketakutan, tipisnya iman, dan desakan pertanyaan (atau pernyataan) mengenai Tuhan. Ketakutan bisa menggerogoti iman dan kurangnya iman bisa memperbesar ketakutan dan keduanya itu bisa semakin menepikan relevansi Allah karena yang penting dalam hidup ini cuma ‘aku’, ‘saya’, dan ‘gue‘. Hanya ketika orang bisa merelativisasi dirinya, kepentingannya, ambisi pribadinya, ia bisa melihat relevansi Allah dalam hidupnya.

Adalah Andrew Garfield, salah seorang pemeran karakter jesuit dalam film Silence, yang mengalami relativisasi dirinya untuk penghayatan peran yang dimainkannya. Ia kehilangan berat badan hampir dua puluh kilogram selama persiapan pembuatan film tersebut. Retret seminggu dan menurut pengalamannya, ia memiliki cara pandang baru terhadap kehidupan ini. Bahwa seorang agnostik mampu menjelaskan dengan meyakinkan frase finding God in all things, tentu agak kontradiktif, tetapi menurut saya, ia berhasil menjelaskannya meskipun ia memberi label yang keliru (para jesuit adalah panteistik). Ini cuplikan wawancaranya (bisa klik cc untuk memunculkan subtitle Inggris):

Di situ kentara bagaimana Garfield merelativisasi tubuhnya sendiri untuk menangkap misteri kehidupan yang jauh lebih besar: AMDG. Semua hal lain diciptakan untuk tujuan AMDG itu, sebagaimana kayu yang dipotong dan dipakai sebagai meja kursi tempat orang bisa duduk dengan tenang dan mengkritisi diri kalau tindakannya memotong kayu itu bertentangan dengan tujuan AMDG lalu segera mengoreksinya sehingga AMDG lebih utama daripada bisnis kayu dan sebagainya. Ketakutan bisnis kayu merosot malah membuat orang tak bisa lagi merelativisasi pemotongan kayu dan mencari bentuk-bentuk baru supaya AMDG lebih terealisasi.

Itu bisa dianalogikan dengan kecupetan orang yang tak bisa lagi mengakomodasi moda transportasi dan mentalitas baru dan menghidupkan kembali gerobak untuk angkutan perkotaan. Manusiawi belum tentu, AMDG pun tidak ada jaminan. Di mana akal sehat diinjak, di situ AMDG dipancung. Kenapa orang bisa menginjak akal sehat? Karena ia hendak menonjolkan kepentingan ‘aku’, ‘saya’, dan ‘gue‘ tadi. Maka yang dipikirkannya cuma aksesori: gimana cara nginjak akal sehat secara santun! Viva 58, haha…. Ini bukan sindiran untuk ide besar mengajari tukang becak untuk nggenjot becak secara bagus, cuma ngêlèdèk aja itu, kata teman saya, seperti ngajari ikan berenang.

Ya Tuhan, mohon kejernihan hati dan budi supaya kami terus menerus berani mawas diri dan menemukan cinta-Mu dalam akal sehat yang memuliakan semakin banyak orang. Amin.


SABTU BIASA III B/2
27 Januari 2018

2Sam 12,1-7a.11-17
Mrk 4,35-41

Posting Tahun A/1 2017: Katanya Jago
Posting Tahun C/2 2016: Maunya Mbilung
Posting Tahun B/1 2015: Pembawa Damai nan Ceria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s