Ayo Caci Piring

Apa yang vital belum tentu viral, dan yang viral belum tentu vital (lah apa bedanya seh?). Ini gak cuma benar untuk era post-truth, tetapi juga berlaku sejak jauh hari sebelum era itu muncul. Sepertinya memang popularitas rada-rada susah bergandengan dengan hal yang secara substansial justru begitu penting bagi semua orang ya? Kesan saya sih begitu. Bukannya tidak mungkin bahwa yang populer itu memuat sesuatu yang secara substansial penting bagi seluruh makhluk, tetapi pada titik tertentu, akhirnya keduanya mesti melepaskan gandengannya.

Kapan yang vital melepaskan diri dari yang viral atau, sebaliknya, yang viral memisahkan diri dari yang vital? Ketika yang jadi fokus perhatian hanyalah hal-hal yang sensasional atau spektakuler; keduanya sama-sama bergantung pada persepsi indra (mata, telinga, mulut, dll). Hal-hal ini dengan mudah bisa mengacaukan kemanusiaan. Maksudnya, orang mengambil keputusan atas dasar sensasi semata, dan inilah yang akan mencederai kemanusiaannya.

Cobalah lihat bagaimana seseorang yang tak suka mencuci piring. Karena berduit, ia bisa bayar orang untuk mencuci piring. Semakin duitnya banyak, semakin ia bisa membayar orang lain untuk melakukan pekerjaan lain yang sebetulnya ia sendiri bisa melakukannya. Lama-lama ia berpikir bahwa cuci piring itu bukan pekerjaannya karena status sosialnya meningkat. Itu cuma pekerjaan yang dibuat oleh rakyat jelata, rakyat kebanyakan. Bukankah di situ ia menciptakan sendiri kriteria rakyat kebanyakan dan rakyat kesedikitan? Padahal, de facto, cuci piring bisa dilakukan oleh setiap orang, entah suka atau tidak. 

Di situlah, pada hal-hal semacam itu, kemanusiaan dikacaukan karena hatinya tertambat pada pekerjaan kasatmata, bukan nilai yang melingkupinya. Terhadap roh pengacau seperti itu si Yesus cuma menghardik,”Diam!” Kiranya untuk beberapa orang diam itu berarti juga agere contra, melakukan hal yang justru tidak disukainya. Barangkali memang untuk menata kemanusiaan, orang perlu diminta melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa yang oleh mereka yang berstatus sosial ‘tinggi’ dianggap rendahan. Tentu itu manjur untuk mereka yang menempatkan dirinya berstatus sosial ‘tinggi’.

Bagi yang sudah tidak menganggap diri berstatus sosial ‘tinggi’, mereka bisa meneruskan pekerjaan-pekerjaan serba biasa, tetapi dengan fokus luar biasa: everything I do, I do it for YOU.
Ya Allah, mohon rahmat supaya kami senantiasa mampu mengarahkan hati kami kepada cinta-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA IV B/2
28 Januari 2018

Ul 18,15-20
1Kor 7,32-35
Mrk 1,21-28

Posting Tahun 2015: Ngotot tapi Santai… Piye Jal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s