SuperVero

Tahun lalu ada sosok wanita bercadar yang jadi pergunjingan banyak orang karena merawat binatang-binatang terlantar. Namanya Vero, eh… salah, Hesti. Salah satu beritanya ada pada link ini. Tahun ini ada seorang anak SD yang filmnya mendapat Premio Giovani Award di Italia sono. Anak SD ini anaknya mbak Vero, eh…salah, mbak Rosi, yang merawat anjing di tempat saya yang dulu saya sapa dengan how asu today itu loh. Nah, sudah dua kali salah menyebut Vero ini maksudnya apa je, Rom? 😂 Gak ada maksud apa-apa kok. Vero itu teman SD SMP saya, juga kepala perpustakaan SMP saya dulu. Trus kemarin ada request untuk menulis tentang Vero, dan bingunglah saya Vero yang mana karena di bawah matahari ini ada begitu banyak Vero.

Tahukah Anda apa artinya vero? Ya, benar, Anda memang gini👍🏻. Itu kata sifat. Kata bendanya veritas, yang berarti kebenaran. Kebenaran itu menular. Memang, tular-menular tidak bergantung pada baik-jahatnya sesuatu, tetapi pada benarnya sesuatu bagi orang. Orang bisa terpancing melakukan aksi jahat karena menurutnya itulah hal benar yang baik dilakukannya. Sebaliknya, orang bisa jadi tak tertarik melakukan kebaikan karena menurutnya hal itu tidak benar.

Contohnya konkret. Saya tidak mau mengenakan cadar seperti mbak Hesti memakainya karena menurut saya gak benerlah saya kalau memakai cadar seperti mbak Hesti. Dengan demikian, cadar tak menular. Akan tetapi, apa yang dibuat mbak Hesti itu menular. Cintanya pada makhluk lemah yang tersingkir menyentuh sanubari saya, meskipun saya tidak tergerak untuk melakukan hal yang sama. Soalnya lain ladang lain belalang. Yang penting, niat mbak Hesti untuk terus menularkan kebaikan, itulah yang pantas diperhatikan.

Loh, Romo mbingungi, tadi bilangnya tular-menular itu bukan perkara kebaikan atau kejahatan! Lha ya memang, entah kejahatan atau kebaikan sama-sama bisa menjalar sejauh muatannya diterima sebagai kebenaran. Maka dari itu, silakan simak kisah mbak Hesti tadi. Meskipun memelihara anjing terlantarnya itu baik, tetapi ternyata ada dinamika lain yang mesti dijalaninya dan itu landasannya kebenaran: gak bener dong memelihara binatang tapi dengan cara mengganggu lingkungan sekitar. Ada dialog dan jalan pemecahan sehingga orang tetap bisa melihat ‘kebenaran’ dari kebaikan yang hendak ditularkan mbak Hesti itu. Semoga jelas dengan contoh itu bahwa kebenaran dibangun lewat dialog, tidak bisa lagi diklaim sepihak. Dengan cara itulah justru kebenaran menular.

Dua murid Paulus yang dirayakan Gereja Katolik hari ini adalah contoh bagaimana kebenaran yang diwartakan Paulus menular. Ini bukan kebenaran dogmatis, kebenaran ajaran agama, kebenaran tafsir, melainkan kebenaran yang menyentuh kedalaman hati orang. Pada hati itu ada rasa, nalar, dan kehendak. Sayangnya, tak banyak orang beragama yang punya keseimbangan tiga hal itu dalam imajinasi mereka. Akibatnya? Menyentuh hati kerap disamakan dengan menyentuh perasaan. Akibatnya? Orang bisa berpuas diri dengan rasa perasaan belaka: merasa cukup dengan kasihan, tetapi tidak bertindak apa pun seturut ladang dan belalangnya; orang beragama bisa merasa cukup dengan kesalehan individual, tetapi bernalar eksklusif, lupa bahwa Allah mau merangkul semua.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin mampu menemukan kebenaran-Mu dalam perjumpaan sejati dengan mereka yang jelas berbeda dari kami. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. TIMOTIUS DAN TITUS
Sabtu Biasa II C/1
26 Januari 2019

2Tim 1,1-8
Luk 10,1-9

Posting Tahun 2018: Ketularan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s