Kebenaran Membebaskan

Ini soal sensitif sepanjang masa dan suara saya hanyalah pendapat dan keyakinan pribadi berkenaan dengan hukum syariat dalam masyarakat majemuk. Keyakinan saya cocok dengan Mazmur yang dibacakan di mimbar gereja Katolik hari ini: Sabda-Mu adalah kebenaran, hukum-Mu kebebasan. Artinya jelas: Sabda Allah adalah kebenaran dan hukum Allah senantiasa adalah kebebasan. Dengan demikian, sekali lagi, ini keyakinan pribadi saya, hukum syariat yang klop dengan pernyataan itu tadi ialah yang dihidupi oleh Nabi Muhammad.

Oleh karena itu, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Alquran adalah kebenaran dan hadis Nabi kebebasan. Saya ambil contoh sosok mbak Vero, eh Hesti, yang kemarin saya singgung di sini. Menurut saya, keyakinannya sangat sehat: betul bahwa dalam hukum Islam, ada najis, tetapi pasti juga disediakan prosedur supaya najis anjing itu disucikan. Alhasil, hukum Allah itu membebaskan, sebagaimana juga diindikasikan oleh teks yang dibacakan oleh Guru dari Nazareth hari ini. Problem penerapan syariat dalam masyarakat majemuk tidak terletak pada Alquran dan hadisnya, tetapi pada pelaku-pelakunya yang bisa jadi terpeleset dalam penafsirannya.

Problem seperti ini tidak eksklusif milik Islam. Teks Kitab Yesaya yang dibacakan Guru dari Nazareth hari ini dalam arti tertentu merupakan program politiknya, yang oleh Lukas ditempatkan di awal sebelum ia memulai karya publiknya. Kenapa itu bisa disebut program politiknya? Karena Guru dari Nazareth memang menargetkan kemaslahatan bersama, kesejahteraan bagi semua. Ini adalah dimensi agama yang bukan cuma berkepentingan mengolah unsur batiniah, melainkan juga menegaskan adanya konsekuensi lahiriah terhadap apa yang hendak dibangun dengan unsur batiniah itu. Gak lucu kan kalau orang salehnya setengah mati tetapi tak peduli dengan penderitaan tetangga yang disebabkan oleh kesalehannya itu?

Oleh karena itu, Guru dari Nazareth itu sebetulnya juga berpolitik, bukan dalam arti prosedur politik, melainkan dalam arti terdalamnya: supaya bonum commune sungguh-sungguh diwujudkan. Maka, saya yakin, Guru dari Nazareth ini tak tertarik soal aturannya mau dibuat: monarki, demokrasi, meritokrasi, atau apalah. Hitungan suara 50% plus satu juga pasti bukan concernnya. Begitu pula aneka kampanye atau pilkada dengan segala aturan dan kecurangannya, pasti bukan perhatian utama guru iman. Yang penting, mereka yang terlemah pun mendapatkan tempat dalam perjuangan hidup bonum commune itu. Itu pulalah yang saya percaya sebagai pokok yang disasar oleh syariat.

Sayangnya, guru-guru iman itu, baik Nabi Muhammad maupun Guru dari Nazareth, tak lagi hidup dalam dimensi fisik mereka sehingga terlalu naiflah jika pengikutnya berlomba-lomba mengklaim sebagai pengikut yang autentik, asli, tulen. Kenapa naif? Karena belum tentu orang sadar akan kepentingan ideologisnya, apalagi membebaskan dirinya dari kepentingan ideologis itu supaya kemaslahatan bagi semua tercapai. Mengenai asli tulen dulu pernah saya ceritakan pembedaan yang tak relevan pada posting Anda Asli atau Tulen?“. Identitas diri sekarang ini semakin disadari sebagai pertautan atau kelindanan antara aneka macam faktor hidup orang.

Maka, barangkali pesan “kebenaran membebaskan” pantas diperhatikan: bukan dalam arti “terserah elu“, melainkan seperti cinta, the truth will find a way. Kalau maksa-maksa dengan cara ini atau itu malah membuyarkan karakternya sebagai kebenaran.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami sungguh dapat mengalami kebenaran-Mu yang membebaskan. Amin.


HARI MINGGU BIASA III C/1
27 Januari 2019

Neh 8,3-5a.6-7.9-11
1Kor 12,12-30
Luk 1,1-4; 4,14-21

Hari Minggu Biasa III C/2 2016: Mohon Penjelasan Pak Pulisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s