Anda Asli atau Tulen?

Anda kiranya pernah dengar nama Rhenald Kasali, guru besar manajemen pada Universitas Indonesia. Teks bacaan hari ini mengingatkan saya pada tulisannya beberapa hari lalu: Orang-orang Kaya yang Mengaku Hidupnya Makin Sulit. Silakan baca, menarik, lupakan posting blog hari ini dan percayalah bahwa tulisan itu bisa jadi kerangka untuk mengomentari teks bacaan hari ini.

Salah satu pokok yang menarik saya dari tulisan Pak Rhenald Kasali ialah analisisnya mengenai cara berpikir orang kaya yang menghadapi tekanan Dollar terhadap Rupiah. Mereka menjual aset bukan karena butuh uang, melainkan karena mengikuti kenaikan harga aset alias mencari keuntungan. Ini lucu-lucu gimana gitu, belum lagi kalau ditambah tren untuk membawa-bawa ‘rakyat’. Anda tahu kan siapa yang sebetulnya punya hak untuk membawa-bawa nama rakyat? Tentu mereka yang duduk di lembaga representasi rakyat. Akan tetapi, pada kenyataannya, yang punya otoritas untuk mewakili rakyat itu juga tidak otomatis menjalankan otoritasnya untuk mewakili rakyat, melainkan kelompok tertentu. Ya rakyat juga, tetapi rakyat tertentu. Bisa jadi omong mengenai rakyat miskin, tetapi sebetulnya yang dimaksud adalah sesuatu yang lain, yang bisa disangkut-sangkutkan dengan rakyat miskin juga.

Untuk orang-orang model begitu, bicara mengenai kebenaran, keadilan sosial, kesejahteraan bersama, itu jadi susah setengah mati. Saya dulu pernah ditanyai oleh seorang Tionghoa yang, menurut saya, sudah selesai dengan problem identitasnya sendiri. “Romo tahu bedanya orang Cina asli dan Cina tulen?” Wah, saya tak pernah memikirkannya bahkan. “Kalau yang asli itu berprinsip mencari keuntungan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain.” Oooo, saya mengangguk-angguk,”Kalau yang tulen?”
“Nah, kalau yang tulen itu memikirkan keuntungan orang lain juga. Jadi sama-sama untung. Yang penting bagaimana caranya supaya keuntungannya jauh lebih besar daripada keuntungan orang lain.” Wuaaaaahahahaha….. saya hampir ngakak, tetapi tak jadi karena saat itu waktu hening.

Tentu saja cara berpikir asli-tulen itu bukan cuma milik etnis tertentu karena egosentrisme tidak pandang etnis. Kalau cara berpikir seperti ini dipelihara, apa saja yang mengusik egosentrisme bisa dibuang ke laut atau, dalam kasus guru dari Nazareth, disorongkan ke jurang. Padahal, kebenaran pasti mengusik egosentrisme. Guru dari Nazareth itu janjane ya cuma menunjukkan fakta bagaimana para nabi diterima justru bukan di tempat asalnya sendiri. Akan tetapi, reaksi pendengarnya, yang semula mengamini kebenaran tafsir Kitab Sucinya, sangat negatif. Dugaan saya, ini cuma dugaan lho ya, saya tak sempat melakukan investigasi kepada mereka saat itu, maklum masih sibuk baca buku bahan ujian komprehensif, ada orang-orang yang kepentingannya terusik ketika guru dari Nazareth itu menafsirkan Kitab Suci yang diterima oleh orang banyak saat itu.

Orang-orang inilah yang kemudian membuat tagar #2019gantipresiden, eh…. mulai bersuara untuk mengusir guru yang naik daun ini. Tidak perlu melokalisir pengusiran ini pada mereka yang bertagar #2019gantipresiden. Yang tidak bertagar itu pun, sebagai orang beriman, punya tendensi untuk melawan apa saja yang kesan pertamanya tidak mengenakkan, jadi rewel terhadap apa saja.

Tuhan, bebaskanlah kami dengan rahmat-Mu dari dorongan untuk menjauhkan suara-Mu dari hati kami. Amin.


SENIN BIASA XXII B/2
Peringatan Wajib S. Gregorius Agung
3 September 2018

1Kor 2,1-5
Luk 4,16-30

Senin Biasa XXII A/1 2017: Tuhan Yang Membalas
Senin Biasa XXII B/1 2015: Posesif Tanda Cinta? Dari Mana Bang?
Senin Biasa XXII A/2 2014: Kata-katanya Bijak, Ujung-ujungnya Duit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s