Tuhan Yang Membalas

Kapan penista agama, pemerkosa Kitab Suci mendapat legitimasinya? Ketika ia membawa paham Allah yang merangkul hidup segala makhluk. Mendapat legitimasi tidak selalu berarti bisa diterima oleh segala makhluk, tentu saja. Presiden yang sah berkuasa pun bisa saja diserang oleh rakyatnya sendiri, yang mungkin tidak memilihnya sewaktu pilpres dan hendak memaksakan keinginannya sendiri.

Yang dibuat Yesus dengan membacakan penggalan teks dari Kitab Yesaya sebetulnya juga semacam pemerkosaan terhadap Kitab Suci. Orang-orang yang berkumpul di situ sudah hafal dengan kitab yang dibacakannya dan tentu saja mereka tahu bahwa ada frase yang dipotong, tidak dibacakan Yesus: hari pembalasan Allah kita.

Yang saya mengerti, bangsa Israel waktu itu memang dalam keadaan terjajah sehingga pada nasionalisme mereka tertanamlah dorongan untuk melakukan pembalasan terhadap penjajah. Barangkali mirip-mirip dengan dorongan mereka yang melihat betapa perusahaan multinasional sudah mengeksploitasi tanah Indonesia dan tidak memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal dan nasional: maunya ya ancurin aja itu perusahaan. 

Akan tetapi, bukan nuansa itu yang hendak dibawa Yesus. Ia berhenti pada frase Tahun Rahmat Tuhan, yang menganulasi segala relasi timpang yang diakibatkan oleh tata kemasyarakatan yang dibangun oleh manusia sendiri. Itulah justru pembalasan Tuhan, yang tidak bisa dimengerti oleh orang yang sedang dikuasai hasrat untuk membalas pihak lain yang dianggap merugikannya: hamba terhadap tuannya, orang miskin terhadap tengkulak, bangsa tertindas terhadap penjajah, dan seterusnya.

Pembalasan Tuhan satu paket dengan rahmat Tuhan itu tadi: bukan untuk membuat pihak terjajah mengaktualkan doa “biar tau rasa” bagi pihak yang dimusuhinya, melainkan untuk mengembalikan orang pada relasi asali, fitrah manusia sendiri di hadapan Allah. Maka, tuntutan logis di situ ialah sikap tobat dan pengampunan. Sikap ini melepaskan orang dari balas dendam Allah (yang sebenarnya sih cuma proyeksi hasrat manusia sendiri untuk menolak tobat dan pengampunan).

Maka, pembalasan Tuhan pun bisa melampaui nasionalisme (meskipun tidak mengabaikan nasionalisme) dan tatanan hukum yang diutak-atik oleh manusia sendiri. Loh, mosok orang jahat diampuni njuk gak dihukum gitu? Lha iya dihukum, tapi menghukumnya bukan karena balas dendam, melainkan justru sebagai wujud tobat dan pengampunan bagi yang bersangkutan dan hukum itu sendiri mesti terus menerus dikritisi apakah menggambarkan rahmat Tuhan atau gelojoh kuasa manusia belaka. Ya mau gimana, kalau memang ingin Tuhan membalas kejahatan, ya biar Dia membalas dengan keadilan dan kerahiman-Nya, bukan?

Tuhan, semoga kami semakin mampu mempersaksikan kerahiman-Mu lebih daripada dorongan hasrat untuk menguasai orang lain. Amin.


HARI SENIN BIASA XXII A/1
4 September 2017

1Tes 4,13-17a
Luk 4,16-30

Senin Biasa XXII B/1 2015: Posesif Tanda Cinta? Dari Mana Bang?
Senin Biasa XXII A/2 2014: Kata-katanya Bijak, Ujung-ujungnya Duit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s