Adegan Panas

Beberapa orang muda pernah berkomentar kepanasan karena lagu yang disetel di mobil yang saya sopiri itu adalah lagu-lagu rohani. Bisa jadi mereka menyindir AC Alphard Punya Vastoran (APV) sudah kehabisan freon, tetapi bisa juga mereka sedang kerasukan setan dan yang mengatakan panas itu adalah setannya. Kalau tidak, mungkin malaikat pelindung mereka sedang bercanda.

Pernah lain waktu saya berjalan menyusuri tepian kali di sebuah kota pesisir utara Jawa pada menjelang maghrib. Saya tertarik mendekati suatu tempat di bawah jembatan karena seperti ada tontonan. Betul. Ternyata warga pinggiran kali itu sedang bermain biliar. Ketika salah satu dari mereka sadar akan kedatangan saya, beberapa meninggalkan tempat biliar dan ketika saya di dekat meja biliar mereka, salah seorang pemuda berteriak,”Ini, Pak, dia yang suka main!” (Setdah, umur masih 33 dah dipanggil ‘Pak’ aja!) “Ora, Pak, iki mung dolanan biasa kok!” jawab orang satunya, dan memang saya tidak melihat tanda-tanda mereka berjudi di situ. Yang tidak saya mengerti, mengapa beberapa dari mereka setelah tahu saya mendekat malah ngeloyor pergi, padahal saya bukan polisi, datang sendiri dan sudah mandi! 

Saya tidak hendak mengklaim bahwa saya punya Wibawa yang dipatungkan oleh kepolisian di persimpangan jalan, tetapi saya hendak memperlihatkan betapa dalam dirinya sendiri setan itu mengalami kegaduhan ketika kebaikan menghampirinya. Dalam salah satu model pernyataan tobat di awal perayaan ibadat Katolik bisa dinyatakan bagaimana orang yang berdosa itu batinnya tersiksa dan hidupnya sengsara belaka (apa selalu sih, kayaknya gak juga) karena mengeluh sepanjang hari.

Menariknya, dari kisah hari ini ditunjukkan bahwa kuasa yang diperoleh dari relasi kuat dengan Allah itu mengenyahkan yang jahat, membebaskan orang yang semula dikuasai si jahat itu. Kuasa yang berwibawa ini membebaskan, bukan dalam arti terserah orang mau ngapain, melainkan dalam arti belenggu orang untuk move on diretas. Kuasa begini ini jarang, biasanya kuasa seseorang menjadi ancaman dan orang yang berhadapan dengannya malah takut dan penuh keterpaksaan.

Ya Tuhan, semoga kekuasaan yang kami emban memberi kebebasan bagi sesama untuk mengembangkan diri mereka. Amin.


HARI SELASA BIASA XXII A/1
5 September 2017

1Tes 5,1-6.9-11
Luk 4,31-37

Selasa Biasa XXII C/2 2016: Omong Kosong
Selasa Biasa XXII B/1 2015: Gayanya Sih Boleh
Selasa Biasa XXII A/2 2014: Manusia Utuh Butuh Titik-Titik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s