Gayanya Sih Boleh…

Salah satu tolok ukur tulisan mahasiswa disebut ilmiah ialah ada tidaknya footnote dan bibliografi; tentu saja, diandaikan bibliografi dan catatan kakinya sambung dengan logika tulisannya. Otoritas ilmiah mahasiswa masih tergantung pada penelitian lain yang sudah diakui dalam komunitas akademis. Setelah meraih gelar doktor (murni, tanpa pemalsuan nama kampus atau plagiat), otoritas akademisnya diakui, ia bisa menyatakan idenya tanpa cuplik sana cuplik sini meskipun untuk kepentingan tertentu bisa saja ia tetap perlu memberi rujukan.

Pada masa Yesus pun sudah umum bahwa mereka yang mengajar umat Yahudi menyitir ajaran-ajaran orang lain yang diterima sebagai tokoh penting dalam sejarah Yahudi. Dalam Gereja Katolik pun, tugas pengajaran iman umat tidak begitu saja bisa diberikan oleh setiap orang. Pengkotbah mesti menempuh studi khusus, bahkan menjalani menghidupi status khusus yang memungkinkan mereka diterima sebagai pengkotbah di mimbar gereja. Ini adalah sesuatu yang wajar juga. Tak mungkin tiba-tiba seorang pedagang asongan diminta berkotbah di gereja, kecuali pedagang asongan itu adalah frater yang kuliah teologi dan sudah menerima tahbisan diakon. Paling banter orang seperti itu akan menceritakan ini itu dan menyitir pendapat ini itu. Kalau ia menyatakan pendapatnya, bisa jadi komentar pendengarnya berbunyi,”Siapa elu?”

Yesus dikagumi pendengarnya saat ia memberikan tafsir Kitab Suci. Rupanya ia tidak meminjam otoritas tokoh-tokoh besar. Pendengarnya terpukau oleh metode tafsir Yesus. Akan tetapi, Yesus tidak hanya menunjukkan metode tafsir pribadinya. Ia memberi kesan bahwa otoritas pribadinya itu bisa dipertanggungjawabkan dengan apa yang senyatanya dia buat: mengusir roh jahat yang merasuki seseorang di rumah ibadat (nah… jadi bukan jaminan kan bahwa orang yang sering ke rumah ibadat itu terbebas dari roh jahat)! Menariknya, ia mengusir roh jahat itu tidak dengan menyitir kekuatan lain: demi Tutatisnya Asterix atau demi dewa mabuk atau demi yang lainnya. Ia cukup mengatakan,”Diam! Keluar dari orang ini!” Ia memang punya otoritas terhadap roh jahat, bahkan roh jahat itu pergi tanpa bisa menyakiti orang yang dirasukinya.

Relasi intimnya dengan Allah memberi isi pada otoritas Yesus. Apa yang dikatakannya punya kekuatan sungguh dalam tindakannya. Hal yang sekarang ini jelas jarang dimiliki orang: jauh lebih banyak yang tebar pesona, tebar gaya, tebar pencitraan dengan aneka macam hal. Tak banyak orang yang mau mengikuti jejak Yesus ini. Lebih banyak orang yang bersama roh jahat itu berseru,”Apa urusan-Mu dengan kami?!” seolah lupa bahwa aneka hal yang fisik ini bergerak karena ada roh yang menggerakkan. Roh jahat peduli supaya semakin banyak orang menuruti roh yang bertentangan dengan roh yang diwartakan Yesus.

Tuhan, semoga aku semakin mampu melihat bagaimana Engkau terlibat dalam sejarah hidupku. Amin.


HARI SELASA BIASA XXII B/1
1 September 2015

1Tes 5,1-6.9-11
Luk 4,31-37

Posting Tahun Lalu: Manusia Utuh Butuh Titik-Titik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s