Omong Kosong

Dua keponakan saya kerap bertengkar karena yang paling kecil maunya mengeksplorasi apa saja yang ada di sekelilingnya meskipun dia belum sekolah (atau mungkin justru karena belum bersentuhan dengan sekolah ya). Kakaknya, kelas tiga SD, sering mengganggu atau menggoda dan si kecil ini mesti rame berteriak-teriak dan kadang tangannya melayang (tanpa lepas dari bahunya) memukul apa saja yang jadi bagian tubuh kakaknya. Meskipun kakaknya sudah berteriak minta ampun, si kecil terus saja memukul-mukul. Pun kalau kakaknya memarahi, si kecil tak peduli. Baru ketika kakak tertuanya, kelas 1 SMK, menyebut nama si kecil ini (tidak memarahi), ia diam sembari mewek seakan-akan hendak menangis.

Yang dilakukan keponakan kelas 3 SD ini adalah pendekatan kekuasaan. Dia punya kuasa untuk memarahi adiknya, juga dengan cara kekerasan fisik dengan menahan tangan adiknya, tetapi kekuasaannya itu tidak otoritatif. Ia punya kuasa, tetapi tak punya otoritas. Kakaknyalah yang rupanya punya otoritas terhadap si bungsu sehingga si bungsu mau mengubah perilakunya hanya karena mendengar namanya dipanggil. Dari mana otoritas itu? Saya tak tahu, barangkali ada pengalaman sebelumnya yang membuat keponakan terkecil itu takut pada kakak tertuanya.

Begitulah, ada orang-orang yang punya kuasa, tetapi tidak otomatis punya otoritas bisa juga dikatakan ada orang-orang yang punya jabatan kekuasaan tetapi kehilangan otoritasnya alias kehilangan wibawa. Dari mana wibawa atau otoritas ini diperolehnya? Saya tak tahu, barangkali dari integritas yang dimilikinya. Orang yang punya integritas biasanya punya otoritas atas apa yang dikatakannya sehingga orang lain akan mendengarkannya. Ini adalah bagian dari karakter yang tak mungkin dibangun semata dengan teknik pengembangan kepribadian.

Dalam teks hari ini dikisahkan bagaimana Yesus mengajar dengan penuh kuasa. Maksudnya tentu adalah bahwa ia berbicara dengan otoritas tertentu yang membuat pendengarnya terpukwow… Tak hanya pengajarannya, tetapi juga perintahnya kepada setan pun sedemikian otoritatif sehingga setan yang mengganggu orang itu hanya bisa menjalankan apa yang diperintahkan Yesus. Otoritas seperti ini, dalam terang bacaan pertama, berasal dari Roh Allah yang tinggal dalam diri manusia. Seberapa jauh manusia jadi saluran Roh, sejauh itulah ia punya otoritas sebagai pribadi yang integrated.  

Sudah terlalu banyak kekuasaan rohani di bumi ini yang diabused justru oleh (lembaga) pemuka agama karena yang mereka kejar justru adalah gengsi agama, bukan nilai atau substansi yang disalurkan oleh agama. Kelompok seperti ini cenderung menjadi sangat kaku dalam menciptakan keseragaman asesoris dan tak mau menelisik bersama nilai universal yang ditawarkan pihak-pihak yang berbeda. Mereka tetaplah pemimpin agama, tetapi tidak otoritatif, meskipun bisa memaksakan kekuasaannya (justru karena kongkalikongnya dengan kekuatan politik), alias omongan mereka kosong mlompong.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat seiya sekata seturut Sabda-Mu dalam batin kami. Amin.


SELASA BIASA XXII
30 Agustus 2016

1Kor 2,10-16
Luk 4,31-37

Posting Selasa Biasa XXII B/1 Tahun 2015: Gayanya Sih Boleh
Posting Selasa Biasa XXII Tahun 2014: Manusia Utuh Butuh Titik-titik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s