Minta Apa Eaaaa….

Saya percaya pada sebuah teori bahwa awal kekuasaan di wilayah yang belum terbangun kokoh tata negara dan kebangsaannya, secara mutlak dibutuhkan diktator, tetapi kalau sifat diktator itu dilanjutkan dan disusupkan pada sistem yang dibangun (sehingga tersamarlah sifat diktator itu), celakalah bangsa dan negara itu. Herodes yang berkuasa sebelum Yesus lahir dan masih berkuasa pada saat kematian Yesus, adalah diktator handal yang masa kekuasaannya melebihi masa jabatan presiden terlama di negeri ini: 43 tahun. Selama itulah ia mencari muka kepada Kaisar (Tiberius) dan menindas rakyatnya.

Penguasa macam ini, dengan koalisi ‘keluarga’: Herodias dan Salome, jadi kekuatan jahat yang mematikan dan nyawa orang jadi tak lagi penting. Cara saya memandang sejarah mengundang tanya: kok isa koalisi macam ini dibiarkan oleh Allah? Kenapa Dia gak intervensi secara istimewa untuk misalnya membuat Herodes atau Herodias mati mendadak aja? Tentu pertanyaan itu tidak cuma relevan untuk koalisi jahat Herodes-Salome-Herodias, tetapi juga aneka macam kejahatan lainnya: kenapa Allah membiarkan kejahatan terjadi?

Sejarah dalam pemahaman saya adalah ingatan kolektif akan bagaimana Allah menuntun manusia menggapai keselamatan kekalnya. Teologis sekali, bukan? Tentu saja, lha memang itu yang saya hayati. Dalam pemahaman itu, bagaimana sejarah ini bergerak akan sangat bergantung pada pilihan orang-orangnya sendiri. Dengan demikian, saya bukan orang yang begitu mudah mengatakan ‘sudah takdirnya’. Pun kalau saya mengatakannya, itu hanya sinonim dari ungkapan ‘saya tak mengerti mengapa begini, mengapa begitu’. Saya tak mengerti mengapa lahir tahun 70-an dari dusun di Jawa Tengah, misalnya. Selebihnya, itu soal bagaimana orang menghidupi kebebasan yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Karena itu, saya ingin menarik perhatian pada pilihan-pilihan kita. Saya tak tahu apakah seorang Salome sudah memiliki kapasitas untuk memilih kepala Yohanes Pembaptis. Saya ragu itu adalah pilihannya sendiri. Ia belum otonom dan pilihannya sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekelilingnya. Di situ pertanyaannya: apakah pilihan kita itu berorientasi untuk membangun sejarah Allah menuntun umat-Nya, atau malah hendak menghancurkan tuntunan Allah sendiri dengan meniadakan satu sama lain, seolah-olah diri kitalah manusia sempurna itu.

Tuhan, semoga kami tahu apa yang kami pilih dan di mana letaknya dalam seluruh proyek keselamatan-Mu. Amin.


PERINGATAN WAJIB WAFATNYA YOHANES PEMBAPTIS
(Senin Biasa XXII C/2)
29 Agustus 2016

Yer 1,17-19
Mrk 6,17-29

Posting Tahun Lalu: Diam Tanda Setuju?
Posting Tahun 2014: Florence oh Florence

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s