Pemulung Dilarang Masuk?

Anda mungkin pernah mendapati logika seperti ini di lingkungan Gereja Katolik berkenaan dengan cara berpakaian: menghadap bos di kantor saja orang berpakaian sopan dan rapi, apalagi menghadap Tuhan! Ini biasanya dipakai untuk menyerang mereka yang datang ke gereja dengan pakaian yang dianggap tidak sopan, seakan-akan mereka hendak melakukan fashion show dan sebagainya. Untuk logika macam itu, saya biasanya bertanya sederhana sekali: memangnya Anda datang ke gereja itu untuk menghadap Tuhan (sehingga sebelum sampai di gereja itu Anda tidak ‘menghadap’ Tuhan?) Yang butuh pakaian rapi dan sopan itu Tuhan atau siapa?

Hmmm… jadi Romo ini gak setuju ya etiket orang beribadat di gereja? Bukan gitu juga sih. Etiket luar itu diperlukan untuk relasi horisontal antarmanusia, tetapi gak perlulah bawa-bawa Tuhan segala. Ntar jadinya maksain klaim kebenaran dengan legitimasi restu dari Tuhan. Lha, siapa yang bisa mengklaim ini dari Tuhan dan itu bukan dari Tuhan?

Rasa saya, lebih fair mengatakan bahwa pakaian seronok itu gak pantas dipakai di tempat ibadat karena berpotensi mendistraksi fokus orang lain. Itu saja. Jadi, bukan karena Tuhan terganggu. Tuhan mungkin malah maunya manusia itu ‘telanjang’, dalam arti menelanjangi diri dari kelekatan pada aneka etiket yang bersifat temporer atau lokal atau partikular. Teks bacaan pertama menyinggung soal ini: yang penting cara mengerjakannya yang sopan, bukan tampilan ramah tamahnya. Cara yang mana? Dituliskan: Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan. Ini sama sekali bukan soal merendahkan diri untuk menaikkan mutu, karena teknik macam ini termasuk dalam etiket horisontal yang di dalamnya berlaku perhitungan-perhitungan manusiawi belaka. Menyembunyikan status supaya ujung-ujungnya mendapat banyak pujian. Berlagak miskin supaya dapat discount, pura-pura jadi pengemis supaya dapat duit banyak tanpa tuntutan kerja keras. Bukan begitu cara yang dimaksud Kitab Suci!

Saran Yesus bisa saja ditangkap sebagai kerendahan hati yang naif. Ia menyarankan supaya orang yang diundang ke dalam pesta itu duduk di belakang, seolah-olah dengan harapan nanti mendapat tempat terhormat. Pasti bukan ini yang dia maksud. Kenapa? Karena konteksnya bukan soal pesta mantenan. Kita masih ingat paradigma Kerajaan Allah sebagai pesta. Dalam pesta itu, kriteria ukuran yang dipakai Yesus bukanlah kriteria yang dia amati terjadi dalam hidup konkret sehari-hari: orang-orang yang berebut mencari tempat kehormatan. Ini jelas berbunyi untuk kecenderungan manusiawi kita untuk mengusahakan kehormatan itu dengan prestasi, jabatan, pangkat, dan sejenisnya. Sesuatu yang umum.

Justru itulah pesannya: mbok yao kalau berurusan dengan relasi vertikal, kriterianya disesuaikan dengan nuansa vertikal, jangan pakai kriteria horisontal, apalagi diformalkan di depan pintu gereja (yang pakai celana ketat gak boleh masuk gereja, misalnya). Yesus menjungkirbalikkan kriteria etiket pesta: bagi Allah, hirarki berjenjang itu tak berlaku; semua saja sama di hadapannya, maka yang posisinya tinggi, justru mesti merendahkan diri supaya Allah yang rendah hati itu juga jadi konkret, bukan cuma ideologi. Gimana konkretnya? Ada pada diri mereka yang inklusif, yang punya preferensi pada pihak yang terabaikan, tersingkir, lemah, dan sejenisnya, yang tak masuk hitungan logika “siapa kuat dia dapat”. Ini pertama-tama soal hati, bukan tampilan.

Tuhan, jadikanlah kami rendah hati seperti hati-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXII C/2
28 Agustus 2016

Sir 3,17-18.20.28-29
Ibr 12,18-19.22-24a
Luk 14,1.7-14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s