Bunda Cinta

Ini sharing seorang ibu bernama Monika, yang identitasnya tak boleh saya ungkap ke publik, lagipula gak penting juga identitas publiknya. Yang penting sharingnya aja [Syukur kalau banyak yang mau sharing via blog ini, jadi sayanya ngirit kerjaan, haha]. Begini bunyi sharingnya:

Kalo’ orang buta menuntun orang buta, bisa jadi hanya akan saling bertengkar dan takkan pernah sampai tujuan. Sering terjadi mereka yang tampaknya secara tegas mengajarkan nilai dan prinsip yang baik adalah juga mereka yang melanggar nilai dan prinsip itu sendiri. Sewaktu anak-anak saya mulai besar, saya selalu menginginkan mereka jadi lebih hebat; saya berusaha mengajari mereka moral yang baik, tetapi sering malahan saya yang pertama kali salah, jadi contoh buruk, dengan celaan-celaan saya, dengan umpatan saya, yang tentunya bukan contoh yang baik. Saya merasa jadi penuntun yang buta, khususnya ketika saya tahu bahwa anak-anak saya, yang saya mati-matian mengusahakan yang terbaik bagi mereka yang saya bisa, malah diam-diam jatuh dalam dunia gelap, mabuk-mabukan.

Saya bertanya pada diri sendiri di mana salah saya sehingga mereka terjerumus ke sana. Tentu pada titik tertentu saya melakukan kesalahan, tetapi dalam momen-momen seperti itu saya berhenti sebentar dan berkata pada diri sendiri,”Sekurang-kurangnya aku sudah berusaha.” Akan tetapi, hal itu tak membuat saya tenang juga, mungkin tak cukup sebagai bekal untuk maju. Saya memerlukan sesuatu yang lebih ‘kuat’. Perlahan-lahan saya sadar bahwa merekalah ‘kekuatan’ saya. Meskipun saya punya banyak kelemahan, mereka tetap datang ke meja makan dan mendengarkan saya (meskipun belum tentu melaksanakan apa yang saya nasihatkan). Pastinya ada sepenggal cinta mereka kepada saya dan mereka tentu juga punya kerapuhan yang saya belum juga bisa membantu mengatasinya.

Tak ada kata ‘Tuhan’ dalam sharingnya, tetapi kesadaran Ibu Monika tentang kualitas cinta yang hadir juga dalam kerapuhan, itu adalah insight kabar gembira. Kalau orang mau bermegah, bermegahnya itu baru bunyi kalau diletakkan dalam Cinta, dalam kekuatan Allah sendiri. Semoga, wanita-wanita perkasa itu dengan perlahan dan pasti merenda cinta Allah dengan aneka cara demi membangun dunia yang lebih selaras dengan Cinta. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. MONIKA
(Sabtu Biasa XXI C/2)
27 Agustus 2016

1Kor 1,26-31
Luk 7,11-17

Posting Tahun 2015: Agama Parasut atau Parasit?
Posting Tahun 2014: Ibu-Ibu Perkasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s