Faith Bank

Sementara Anda mungkin sudah bosan dengan power bank, saya belum pernah punya benda aneh itu. Mohon maklum, saya generasi adiknya Siti Nurbaya, temannya Soto Nurboyo. Saya lebih akrab dengan faith bank, kalau boleh disebut begitu. Ini renungan saja, masih lanjutan dari jaga-jaga.com kemarin: lima gadis bijak yang dikisahkan dalam perumpamaan tentang Kerajaan Allah itu adalah seumpama lima gadis ribet dengan kabel charger dan power bank. Mereka tahu benar bahwa menunggu mempelai itu unpredictable dan bisa jadi kapan saja sebelum fajar menyingsing. Jadi, supaya lentera mereka bisa tetap hidup sampai fajar menyingsing, mereka membawa refill. Lentera itu membutuhkan isi ulang, butuh charger.

Tentu karena itu adalah perumpamaan tentang Kerajaan Surga, refill, charger, atau power banknya berbeda dari yang bisa kita lihat dengan mata kita. Ini yang saya maksudkan sebagai renungannya: iman kita butuh charger juga, butuh faith bank, tak bisa diandaikan seperti lima gadis tolol yang mengira lenteranya cukup untuk menantikan mempelai yang mereka sambut. Begitulah kiranya kalau orang tidak menangkap bahwa being religious is always being interreligious. Orang merasa kalau sudah beragama njuk gak butuh (agama) yang lain-lainnya! Ia mengira agamanya sudah memadai pada dirinya sendiri. Eaaahaha… ini kok malah jadi menjelaskan silabus perkuliahan ya?

Saya bukan orang yang anti masa lalu atau anti tradisi lain. Sebaliknya, saya justru ingin belajar dari tradisi lain, tetapi yang hendak saya petik dari tradisi lain itu adalah nilai keutamaan yang hendak ditawarkannya, bukan tampilan yang ditunjukkannya. Kadang tampilannya menarik dan inspiratif bagi saya, tetapi kebanyakan tidak mendorong saya untuk melakukan hal yang sama. Tuncep poin, selama tinggal di daratan Eropa, saya hadir dalam aneka perayaan liturgi dengan aneka ritus yang tidak saya hidupi dalam keseharian. Saya tak bisa mengidentifikasi semua ritus yang saya ikuti tetapi saya hadir dengan senang hati dan berdoa dengan sepenuh hati. Dengan orang-orang Afrika, yang tak saya pahami bahasanya, saya merasakan kegembiraan perayaan Ekaristi. Dengan orang-orang dari Eropa Timur saya merasakan nuansa misteri karena aneka dupa dan resitasi teks suci yang secara fasih dilafalkan oleh umat dan petugasnya. Dengan ritus Ambrosiana saya ingat pada variasi-variasi kecil yang dibuat dalam perayaan Ekaristi biasa yang saya ikuti. Dengan misa extraordinaria saya mencicipi bagaimana nuansa perayaan Ekaristi dengan paradigma Gereja Barat dulu-dulunya.

Momen perjumpaan dengan kebiasaan yang berbeda itu justru memperkaya penghayatan iman saya tanpa kehilangan konteks hidup saya sendiri di sini dan sekarang ini. Ini adalah momen hidup beriman yang memungkinkan orang menghayati nilai kerohanian dari perspektif yang lain juga, tanpa euforia berlebihan dengan kebiasaan yang berbeda itu. Meskipun saya menikmati Ekaristi penuh tarian selama tiga jam, tetapi saya meyakinkan diri saya bahwa itu bukan substansi yang ditawarkan kepada saya. Meskipun saya berdoa sepenuh hati dalam ritus Ambrosius, tetapi saya tetap prefer ritus Roma yang biasa saja.

Yang penting, perjumpaan dengan yang lain itu menambah khazanah perspektif iman yang semakin meneguhkan orang untuk berziarah menjumpai Allahnya dalam hidup konkret: kebijaksanaan salib (bdk. bacaan pertama).

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami mengetahui jalan-jalan kepada-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXI C/2
26 Agustus 2015

1Kor 1,17-25
Mat 25,1-13

Posting Jumat Biasa XXI B/1 Tahun 2015: Satpam 24 Jam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s