Satpam 24 Jam

Tidak semua mahasiswa bijak dan tidak semua yang bijak itu juga pintar: terlalu percaya pada dunia ini sehingga berpikir ‘sekali tertulis tetap tertulis’; jebulnya, seluruh skripsinya bisa hilang dalam waktu singkat hanya karena tidak punya backup. Pada peringatan Santo Augustinus ini dibacakan kisah sepuluh perempuan pagar ayu yang menyongsong mempelai di gedung manten. Yang lima bijak, sisanya bego‘. Tolok ukurnya sederhana: bawa cadangan minyak atau tidak. Yang bego’ itu gak bawa cadangan.

Mempelainya ternyata berhalangan datang tepat waktu. Padahal pagar ayu itu sudah ngantuk. Ini normal. Baik yang bijak maupun yang bego’ pastinya ya bisa ngantuk dan memang akhirnya semua ngantuk dan tertidur. Celakanya, pas mereka sudah tidur itulah manten datang. Kenapa lima pagar ayu itu bego’? Karena waktu tidur mereka tidak mematikan lampu. Bangun-bangun, habis deh minyak lampu mereka; dan mereka mendekati pagar ayu yang lain,”Bagi minyaknya dong!”

Pagar ayu yang bijak tidak berpikir seperti pagar ayu bego’ itu. Yang bego’ cuma mikir apa yang enak buat dirinya sendiri; gak usah pikir planning, gak usah bikin timeline, deadline dan sebagainya; nanti kalau ada apa-apa tinggal minta aja bantuan dari yang bijak, gitu aja kok repot, kan? Begitulah pagar ayu bego’. Akhirnya memang sewaktu mempelai datang, mereka bangun dan kebingungan karena pelitanya hampir padam, lalu dengan polosnya bilang ke pagar ayu lain,”Bagi minyaknya dong!”

Dasar pagar ayu bijak, mereka menjawabnya juga dengan paradigma bijak: ini bukan soal lampuku atau lampumu. Mempelai sudah datang; kalau minyak ini habis karena dibagi-bagi, penyambutan mempelai gagal. Sebagai pagar ayu memang tugas pokoknya menyambut kedatangan mempelai itu; kalau tidak bisa sepuluh, lima juga tak apa, daripada sepuluh-sepuluhnya gagal menjalankan misi (karena yang bego’ cuma mikir apa yang dia perlukan dan bukannya mikir apa yang semestinya dia lakukan supaya penyambutan mempelai itu berjalan lancar).

Santo Augustinus hampir bego’, tetapi pertobatannya sungguh menjadi titik balik hidupnya sehingga kebijakannya begitu termasyhur. Seperti gadis bijak dan bodoh itu, Santo Augustinus terserang kantuk dan bahkan tertidur: terbuai oleh aneka pandangan hidup semu dari filsafat ateis. Ia belum mengerti bahwa Sabda Allah jauh lebih komprehensif bagi upaya berjaga-jaga. Hidup atas dasar Sabda Allah tak mungkin mendorong orang jadi arogan atau nggampangke atau menganggap enteng segala sesuatu. Jika orang hidup dengan Sabda Allah, ia malah berupaya keras dalam hidupnya, meskipun punya sikap santai karena sadar bahwa penguasa hidup sesungguhnya tetaplah Allah sendiri.

Tuhan, berikanlah kepadaku rahmat kebijaksanaan supaya Sabda-Mu sungguh meresap dalam setiap pikiran, perasaan, dan tindakanku. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXI B/1
Peringatan Wajib Santo Agustinus
28 Agustus 2015

1Tes 4,1-8
Mat 25,1-13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s