Life’s a Banquet

Pernah dalam satu masa pengajaran di kelas, saya membebaskan para mahasiswa dari aturan presensi. Entah mereka hadir dalam kelas atau tidak, asal mereka dapat mengerjakan tugas dan ujian, akan saya luluskan. Artinya, asal rerata nilai tugas dan ujiannya memang C, takkan saya nilai kurang atau lebih hanya karena alasan kehadiran yang kurang dari 75%. Jadi, mahasiswa cukup hadir pada kuliah perkenalan dan kuliah hari terakhir, itu juga kalau mau. Waktu itu belum ada kebijakan bahwa mahasiswa yang presensinya kurang dari 75% tidak diperkenankan mengikuti ujian. Pun jika ada kebijakan itu, saya katakan kepada mahasiswa bahwa itu urusan administrasi yang pada kelas saya boleh diabaikan dengan datang untuk tanda tangan dan tak perlu mengikuti perkuliahan.

Rupanya ada yang cuma sekali hadir dalam perkuliahan dan sayangnya ia tak dapat mengerjakan soal ujian dan tugas yang saya berikan. Sebagian lagi presensinya kurang dari 75% dan hasilnya tak memuaskan. Sejak itu saya juga memakai koridor prosedural supaya mahasiswa dapat menyerap sekian persen materi yang saya berikan. Artinya, mahasiswa minimal hadir dalam kuliah tatap muka sebanyak 75%. Angka 75% ini bukan lagi sebagai harapan, melainkan sebagai tuntutan kewajiban supaya mahasiswa dapat menyerap materi perkuliahan. Maka, kuliah saya pun bukan lagi suatu tawaran atau undangan, melainkan jadi kewajiban atau tuntutan bagi para mahasiswa supaya kelak mereka boleh yudisium dan dengan demikian dinyatakan lulus oleh perguruan tinggi tempat saya mengajar.

Pertanyaan yang hidup dalam batin saya: kapan atau mengapa atau bagaimana suatu undangan atau panggilan atau tawaran itu ujung-ujungnya diterima sebagai kewajiban, tuntutan, dan beban?

Yesus itu bola-bali alias berulang kali menganalogikan perjumpaan dengan Allah, Kebahagiaan, Surga, Kerajaan Allah, atau bagaimanapun mau diistilahkan, sebagai wedding feast yang hebat. Barangkali memang begitulah gambaran yang hidup pada masa jemaat Kristen awal. Perjumpaan dengan Allah itu laksana pesta meriah yang menggembirakan semua yang ikut pesta. Tapi sedihnya, hiks, orang memikirkan Allah dan hal-hal ilahi dengan kategori “keharusan”, “keperluan”, “hakim”, dan sejenisnya. Mari bercermin dari sidang berkepanjangan yang diliput media belakangan ini. Orang memakai kategori-kategori macam itu, bukan kategori yang mengimajinasikan Allah sebagai titik kulminasi kebebasan, kebenaran, kebahagiaan, kedamaian, atau ketenangan.

Allah mengundang kemanusiaan dalam suatu pesta. Semua diundang, ditarik, diberi janji yang baik dan realisasinya terjamin, tetapi tanggapan manusia tak sepadan: sori, terima kasih undangannya yang baguuuus banget, tapi kamu tahu kan aku punya banyak kerjaan, aku punya banyak komitmen yang harus kupenuhi!

Kebenaran yang tak masuk dalam relung hati manusia adalah kebenaran yang maunya ditata oleh manusia sendiri, bukan kebenaran sesungguhnya (yang ditata oleh ‘Yang Lain’). Kebenaran macam ini paling jauh bercokol pada kepala manusia alias dimensi kognitifnya, tak merangkul dimensi-dimensi lain dalam kemanusiaan yang utuh (afektif dan volutifnya). Orang macam ini menginginkan kebahagiaan, kebenaran, dan lain sebagainya, tetapi dengan kondisi-kondisi yang ditetapkannya sendiri: harus begini, harus begitu, dan mulailah formalisme dan legalisme yang membuyarkan suasana pesta.

Ya Tuhan, mohon rahmat kebebasan untuk menangkap undangan-Mu. Amin.


Hari Kamis Biasa XX
18 Agustus 2016

Yeh 36,23-28
Mat 22,1-14

Posting Kamis Biasa XX B/1 Tahun 2015: Jangan Main-main dengan Mantilla
Posting Kamis Biasa XX Tahun 2014: Ayo Pesta…(atau Perang?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s