Hadiah

Pada layar hape Anda mungkin kadang muncul pesan tentang hadiah untuk nomer hape Anda dan Anda dipersilakan menghubungi nomer tertentu. Tampaknya aneh: gak beli kupon undian, gak beli produk tertentu, gak ngapa-ngapain kok dapat hadiah! Tetapi memang justru begitulah hadiah: orang gak ngapa-ngapain tapi dapat suatu pemberian cuma-cuma. Problemnya, ‘hadiah’ itu kerap punya udang di balik batunya atau bersyarat. Batal deh jadi hadiah. Tapi gimana ya, salah kaprah.

Orang lebih mudah mengartikan hadiah sebagai suatu balasan, ganjaran, hasil jerih payah dan sejenisnya. Dalam konsep reward and punishment: hadiah dimengerti sebagai ganjaran atau upah dan kegagalan diidentikkan dengan hukuman. Pemenang medali emas dihadiahi 5 milyar dan pelaku kejahatan dijatuhi hukuman seturut suatu detterence theory untuk membuat efek jera. Ini menghambat pemahaman hidup sebagai hadiah, pemberian (Diri). Orang yang merasa beriman pun bertanya,”Apa salah saya, Tuhan, sehingga saya mesti menanggung derita ini?” Pret!!! Emangnya lu kudu salah dulu biar nongol penderitaan?!!! [Untuk orang Kristen: panggul salibmu untuk mengikuti Kristus, ngapain tanya-tanya apa salahmu? Tanyalah apa salah Yesus!]

Bacaan pertama menuturkan vision Yehezkiel: tulang-tulang yang kering berserakan, bergerak membuat formasi, tertutupi daging dan kulit, tapi belum ada kehidupan. Itu adalah simbol bangsa Israel yang harapannya sudah hancur. Apa yang dibuat tulang-tulang nan kering itu? Gak ada! Apa yang dibuat tulang terbalut daging dan kulit itu? Tak ada! Tak ada kehidupan. Baru setelah Allah memberi ruah, hembusan angin, nafas, yang dalam konteks ini adalah Roh, tulang berdaging berkulit itu memperoleh hidup. Itulah hadiah: pemberian Roh Allah sendiri sehingga orang hidup.

Bacaan kedua menyodorkan kuis pertanyaan Ahli Taurat kepada Yesus tentang hukum yang paling utama dan Yesus menjawab secara tepat: cintailah Tuhan dan sesama! Ahli Taurat sudah tahu itu, tapi praktiknya nol. Orang Kristen juga tahu itu, tapi praktiknya mungkin minus! Kenapa? Karena konsep keliru mengenai cinta! Eaaa…. cinta teroooooossss!

Kalau ada sebuah konsep yang bisa menjelaskan kompleksitas cinta, konsep itu adalah ‘hadiah’ tadi. Orang tak bisa mencinta sampai ia menangkap hidup ini sebagai hadiah. Nah lo, Romo ini kemarin bilang hidup sebagai pesta [lha wong itu cuma parafrase yang dikatakan teks Kitab Suci kok], sekarang bilang hidup sebagai hadiah! Piye sih?! Lha ya gak piye-piye. Orang boleh bilang juga hidup sebagai kutukan kok, sebagai beban, sebagai kewajiban, dan sebagainya. Sumonggo. Saya kan cuma menyodorkan tawaran berdasarkan teks bacaan hari ini, ketemunya hidup sebagai hadiah. Hadiah tak mensyaratkan sesuatu, tak menuntut sesuatu. Itulah cinta: suatu pemberian diri, suatu hadiah.

Kalau orang menghayati cinta seperti bisnis jual beli atau dengan modal reward and punishment, saya gak tahu dia ada di dunia mana. Ditilik dari bacaan hari ini sih, itu dunia tulang-tulang nan kering tadi: tak ada kehidupan. Cintalah yang menghidupkan. De facto, orang condong memaknai cinta bukan sebagai hadiah pemberian, melainkan hasil atau jasa yang pantas mendapat imbalan. Di situ, tak ada nuansa hadiah dalam cinta. Cinta adalah pemberian (diri).

Tuhan, mampukanlah kami menangkap hidup, apapun kenyataannya, sebagai hadiah-Mu dan memberikannya juga sebagai hadiah. Amin.


HARI JUMAT BIASA XX
19 Agustus 2016

Yeh 37,1-14
Mat 22,34-40

Posting Jumat Biasa XX B/1 Tahun 2015: Apa Sih yang Kamu Cari, Cin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s