Warga Negara Ganda

Perayaan hari kemerdekaan bangsa ini didahului oleh beberapa problem, kalau tidak mau menyebutnya sebagai dagelan, yang menyoal status kewarganegaraan. Saya tak tertarik melirik problem prosedural yang ujung-ujungnya menyalahkan pihak-pihak tertentu: presidennyalah, tim penasihatnyalah, orang yang bersangkutan sendirilah. Problem itu menjadi dagelan karena pada latar belakang problem itu ada substansi tersembunyi yang mestinya sarat persoalan kepentingan. Tak perlu penjelasan di sini karena ini problem klasik yang sejak dulu ya masuk dalam panggung sejarah.

Yesus disodori jebakan yang menyoal pajak: boleh bayar pajak ke Kaisar gak? Karena dia tahu itu pertanyaan jebakan, dia pun tidak menjawab ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’. Dia klarifikasi dulu alat pembayaran pajaknya. Itu artinya Yesus sendiri tak punya alat pembayaran pajak yang dimaksud [dan dengan demikian ia tak membayar pajak seperti dimaksudkan si penanya]. Dia tanya gambar siapa yang ada pada koin untuk membayar pajak itu dan dijawab bahwa itu gambar Kaisar. Kalau begitu, jawab Yesus,”Kembalikan saja kepada Kaisar apa yang wajib kamu kembalikan kepada Kaisar,” tetapi kemudian menambahkan keterangan,”Kembalikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu kembalikan kepada Allah.” 

Di balik pernyataan itu jelaslah suatu paradigma kewarganegaraan ganda, medan politis dan medan rohani. Pada ranah politik, bacaan pertama dan bacaan kedua memberi penegasan supaya pemerintah menjalankan fungsinya secara bijak dan eksekusi bijak itu mengikat warganya untuk tunduk kepada pelayan masyarakatnya. Kalau salah satu syarat itu tak terpenuhi, ranah politik akan timpang dan jadi dagelan seperti bandara kaliber internasional berproblem menggelikan hanya karena mengejar deadline gengsi, harga diri, atau proyek. Bacaan Injil hari ini memberi konteks yang lebih utuh: pola relasi politis itu mesti diletakkan dalam pola relasi yang lebih adekuat, yaitu dengan Allah yang hendak menjadi Bapa bagi semua orang alias Allah yang menghendaki suatu bonum commune atau kesejahteraan umum.

Tanpa kesadaran kewarganegaraan ganda itu, sebagai warga ‘dunia’ dan warga ‘surga’, bahkan orang beragama pun akan jatuh dalam tindak mempertuhankan kepentingan: kabinet, proyek, tambang, bisnis, duit, hukum, dan lain-lainnya. Orang bisa saja ribut dengan orang-orang yang mempertuhankan manusia, padahal bisa jadi malah ia sendiri mempertuhankan duit! Orang bisa mempersoalkan status kewarganegaraan orang lain dan lupa pada orientasi bonum commune karena ia mempertahankan bisnisnya. Aturan hukum bisa jadi alat nyaman untuk membela kepentingannya, bodo’ amat dengan kepentingan publik!

Agama Kristen meyakini bahwa manusia diciptakan seturut gambaran Allah dan gambaran Allah inilah yang semestinya ‘dikembalikan’ kepada Allah, juga melalui tatanan politik, yang bukan dagelan. Semoga semakin banyak orang yang merdeka untuk menangkap citra Allah itu daripada aneka pencitraan yang berujung pada penyembahan berhala diri sendiri. Amin.


HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
(Rabu Biasa XX)
17 Agustus 2014

Sir 10,1-8
1Ptr 2,13-17
Mat 22,15-21

Posting Tahun Lalu: Rombongan Tujuh Belasan
Posting Tahun 2014: Merdeka Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s