Lagi-lagi Duit

Entah untung atau celaka, saya belum pernah mencicipi narkoba dalam bentuk populernya. Satu-satunya pengalaman yang saya punya hanyalah bahwa sewaktu di SMA saya mendapat kiriman beberapa bungkus plastik bubuk putih dari pengirim yang tak saya kenal (wong tak tertera juga nama dan alamat pengirimnya). Bubuk putih dalam plastik itu diletakkan dalam lipatan brosur yang menerangkan bahwa jika si penerima berhasil menjual barang serupa sebanyak sekian bungkus ia akan mendapat sebuah sepeda motor dan lebih banyak dari itu akan diberi hadiah sebuah mobil.

Untuk orang miskin seperti saya, tawaran itu menggiurkan: mosok cuma dengan beberapa plastik bubuk putih itu orang bisa mendapatkan mobil? Too good to be true! Bubuk putih itu pasti bukan sembarang bubuk putih sebangsa bubuk gula atau tepung! Kok ya ndelalahnya rasa kepo saya tak melabuhkan hidung saya di atasnya untuk menghirupnya. Jadilah barang itu teronggok di tong sampah dan saya tak mengerti bagaimana rasanya salah satu jenis narkoba itu. Sedih, menyesal? Enggak tuh.

Yang membuat saya kemudian angkat topi pada mereka yang mempopulerkan narkoba ini ialah kegigihan, kejelian, usaha keras mereka untuk menjalankan multi-level marketing (MLM) dengan produk narkoba ini. Saya tidak mendukung MLM (narkoba) dan bukan pendukung narkoba pula, tetapi saya mengacungi jempol upaya kecerdikan orang-orang yang terlibat dalam bisnis menggiurkan macam ini. Pada kenyataannya, kalau memang betul sebagian generasi muda bangsa ini rusak karena narkoba, itu hanyalah simtom bangsa ini, yang lebih luas daripada generasi muda tadi, dipecundangi oleh duit.

Presiden bisa saja jadi punisher dan main tembak mati pelaku bisnis MLM narkoba yang dituduh sebagai biang rusaknya generasi muda, tetapi sebetulnya ia cuma diperdayai oleh kekuatan anonim yang menghinggapi orang buanyak. Kekuatan ini dalam bacaan pertama digambarkan sebagai sosok pribadi yang mengganti tempat Allah dalam hatinya dengan uang dan segala kroninya. Dengan uang orang mengira bisa membeli apa-apa saja sehingga saya sebetulnya tak habis pikir mengapa orang mengharamkan narkoba, prostitusi, judi, dan sebagainya. Kenapa tidak mengharamkan uang?!

Ya jangan dong, Rom, karena itu menutup kemungkinan bentuk-bentuk baru kekuasaan kita toh [kita akan menjalankan suatu mission impossible juga: menguasai cinta dengan uang]! Biar aja narkoba, prostitusi dan lain-lainnya dikambinghitamkan dan kita tetap bisa cari kawan baru toh?! Konon tak ada kawan dan lawan yang tetap, yang ada adalah kepentingan yang tetap. Long live money!

Tuhan, semoga kami semakin boleh mengalami kebahagiaan sejati yang muncul dalam kebebasan batin terhadap apa saja yang dapat merenggut Engkau dari hidup kami. Amin.


SELASA BIASA XX
16 Agustus 2016

Yeh 28,1-10
Mat 19,23-30

Posting Selasa Biasa XX B/1 Tahun 2015: Ada Jalan ke Surga untuk Moge?
Posting Selasa Biasa XX Tahun 2015: What’s Wrong with Being Rich?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s