Ada Jalan ke Surga untuk Moge?

Kemarin waktu pesta Santa Perawan Maria diangkat ke surga katanya yang ragawi ini dapat tempat di surga juga, lha kenapa sekarang masih singgung-singgung moge segala dengan pertanyaan sinis seolah-oleh moge susah masuk surga? Biar blognya dapat views tinggi eaaaa? [Nek viewsnya tinggi njur ngopo je? Ampuh ngono po?] Jangan serius-seriuslah, kalau di Kitab Suci saja dibilang lebih gampang unta masuk lubang jarum (konon, itu adalah istilah untuk gerbang Yerusalem) daripada orang kaya masuk surga, ya apalagi moge dong, yang lebih besar daripada orang; krik krik krik… garing nih.

Kalau mau serius, mari lihat teks yang disodorkan hari ini. Teks ini adalah lanjutan kisah pemuda kaya yang datang kepada Yesus untuk mengetahui jalan kesempurnaan. Tahun lalu dibahasnya di sini. Setelah pemuda kaya itu pergi dengan sedih hati karena jalan kesempurnaan itu dirasakannya berat, Yesus bikin kaget murid-muridnya dengan pernyataan moge susah masuk surga tadi… oh bukan, orang kaya susah masuk surga.

Kenapa murid-muridnya kaget? Sama seperti pemuda kaya tadi, mereka tampaknya mematuhi aneka aturan agama tanpa mengerti mengapa mesti mematuhinya. Apa indikasinya bahwa mereka gak ngerti? Lihat saja dari pertanyaan yang disodorkan Petrus atas permintaan yang sama yang diajukan Yesus. Baik kepada pemuda kaya maupun para murid Yesus disajikan persyaratan yang sama untuk mencapai kesempurnaan: meninggalkan segala-galanya dan mengikuti orang gila dari Nazaret itu (Mat 4,20.22). Nah, pemuda kaya itu begitu berat memenuhi syarat pertama karena hartanya mungkin terlalu banyak. Rugi dong, dah capek membanting-banting tulang demi kekayaan itu kok malah terus pergi meninggalkan kekayaan itu!

Para murid tampaknya memenuhi syarat pertama itu, tetapi rupanya tidak. Mentalitasnya persis sama dengan yang dihidupi pemuda kaya itu. Dengan kata lain, semangat kemiskinan rupanya tak bergantung dari seberapa banyak kekayaan yang dimiliki seseorang, melainkan dari sikap dasariahnya terhadap kekayaan itu. Tidak otomatis orang yang miskin punya semangat kemiskinan, dan orang yang kaya raya tak punya semangat kemiskinan.

Para murid masih berpikir dengan kerangka do ut des (aku memberi supaya menerima sesuatu sebagai balasan atau imbalan): kami ini sudah meninggalkan segala-galanya, trus so what, kami dapat apa? Itulah mentalitas yang gak klop dengan syarat mengikuti Yesus. Kalo’ lu mau mengikuti Yesus, gak usah banyak cing cong soal upahnya apa. Ini bukan soal surga kelak setelah kematian nanti, melainkan soal surga abadi yang sudah bisa dialami orang pada saat ia menindakkan aneka keutamaan yang ditunjukkan dan diteladankan Yesus.

Tetapi, kenapa murid-murid itu kaget sih? Belum dijawab lho ini!
Wo iya, sepertinya karena para murid kan juga sudah akrab dengan ajaran Kitab Suci (yang di kemudian hari dipegang oleh sebagian umat Kristen sebagai teologi kemakmuran): tanda bahwa Allah memberkati seseorang ialah kekayaan yang diperolehnya (plus, mungkin, keturunan yang banyak, seperti Abraham). Nah, para murid itu berpikir kira-kira begini: lah, orang yang hidupnya diberkati Allah aja gak bisa atau susah masuk surga, gimana orang-orang miskin yang terkutuk dong?! Siapa, apa ada yang bakal selamat?!

Ya Allah, bantulah aku untuk bisa selalu fokus pada kehendak Sabda-Mu daripada mengejar aneka keinginanku belaka. Amin.


HARI SELASA BIASA XX B/1
18 Agustus 2015

Hak 6,11-24a
Mat 19,23-30

Posting Tahun Lalu: What’s Wrong with Being Rich?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s