Manusia Utuh Butuh Titik-titik

Siapa yang paling mengenal produk perusahaan? Sales manager tampaknya mesti mengenal produk yang ditawarkannya kepada konsumen. Tapi, yang lebih ngerti seluk-beluk produk secara utuh ya penciptanya: mereka yang mengimajinasikan produk, memikirkan, merancang, menghitung-hitung dan merealisasikan produknya. Paulus kurang lebih punya gagasan dasar serupa ketika dia membuat retorika “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.”

Iman kristiani menyatakan bahwa Allah telah mengimajinasikan, merancang, dan menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya dan, dalam/melalui Kristus Allah membuka rahasia rancangan dan pikiran-Nya. Maka dari itu, untuk mengenal diri secara utuh, orang kristiani butuh pikiran Kristus itu. Repotnya, menurut Paulus, pikiran Kristus itu identik dengan kebodohan bagi dunia. Tidak banyak orang yang mau dibodoh-bodohkan karena pikiran Kristus itu, bahkan Petrus yang dekat dengan Kristus semasa hidupnya saja sempat menyangkal relasinya dengan Kristus.

Selain itu, ada problem juga sekarang. Kristus itu kan sudah tak lagi berwujud orang ‘gila’ dari Nazareth. Jadi tak bisa ditanya secara langsung dan menjawab secara lugas bagaimana pikiran Allah itu. Sebagian penjelasannya sudah dimuat dalam Kitab Suci dan Ia sendiri hadir sebagai roh penggerak segala ciptaan: lewat jaringan semesta yang saling terkait. Karena itu, untuk mengenal diri secara utuh, manusia justru butuh sokongan dari ciptaan lain untuk melengkapi pengenalannya yang parsial.

Mengandalkan rasionalitas diri belaka tidak banyak membantu. Orang bahkan bisa sinting dengan basis rasionalitas semata: ia sangat percaya diri dengan kecerdasannya, tapi emosionalitasnya bisa berbicara lain. Ia bisa merengkuh segala bentuk popularitas di dunia, tapi ujungnya adalah budaya kematian. Ia bisa begitu brilian memecahkan kasus korupsi, tetapi ia tak kuasa menolak suap.

Hanya dengan sudut pandang iman orang bisa mengenal dirinya secara lebih baik karena di situlah Roh Allah mendapat medium untuk mewujudkan rancangan dan kekuatan-Nya. Yesus mengusir setan hari ini; tanpa keakraban dengan Roh Kudus, setan tak bakal tunduk padanya. Keutuhan Yesus justru terletak pada keterbukaannya kepada Roh Allah itu. Karena itu, manusia yang utuh justru manusia yang butuh sesuatu ‘yang lain’ untuk memahami dirinya, bukan manusia yang self-sufficient nan arogan. Katanya kan no man is an island. Kenyataannya, orang menghidupi yang sebaliknya: ketika orang tak mau memberi ruang/waktu pada doa pribadi.


SELASA BIASA XXII
2 September 2014

1Kor 2,10-16
Luk 4,31-37

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s