Sopan Santun, Hari Gini?

Di kota Jogja ini dulu saya belajar: mematikan mesin motor, kalau perlu turun dari motor, membuka helm dan baru bertanya mengenai arah kepada warga setempat yang tak berkendara, saat saya tersesat. Di sini pula saya belajar turun dari mobil untuk bertanya kepada orang di pinggir jalan dan bukannya teriak dari dalam mobil. Yang menyenangkan juga saya bisa makan di warung dan menyapa pembeli lain, meskipun tak kenal, sekadar berbasa-basi untuk makan duluan. Masih ada sopan santun lain yang bisa saya lihat dalam pergaulan masyarakat Jogja.

Florence (maaf ya bahas Florence lagi) tidak memiliki kepekaan seperti itu, dan jika boleh menilai, saya kira Kak Flo punya cacat moral yang perlu dibenahi. Sopan santun setiap kultur jelas berbeda, bahkan mungkin bertolak belakang (di satu tempat, orang perlu bersendawa keras demi menghargai tuan rumah; di Jawa, sendawa mesti ditata sedemikian rupa supaya tak terdengar kasar). Maka dari itu, orang bisa saja melakukan kesalahan dalam etiket sopan santun, dan itu bukanlah cacat moral. Orang bahkan punya hak untuk jatuh dalam kesalahan seperti ini.

Akan tetapi, jika orang dengan sadar menolak atau tidak mau sopan (meski sudah ditegur), ia membawa arogansi kulturnya (yang pasti juga tidak monolitik: ada society of mind dalam dirinya, sebagaimana saya tak bisa mengklaim diri orang Jogja asli: ada pengaruh Klaten, Jakarta, Magelang, Ungaran, Italia, Jerman, Palembang) dan secara tak langsung mengatakan bahwa kulturnya lebih baik daripada kultur yang dihadapinya. Apalagi, emosi Kak Flo terungkap dengan bahasa yang mengabaikan kaidah penyampaian kritik (ada di lampiran buku ini). Tak heran, ungkapan ini ditanggapi secara emosional juga. Ini memang bukan semata soal sopan santun komunikasi. Uraian mendetil tentang kompleksitas persoalannya bisa dibaca dengan klik di sini.

Seberapa penting sih sopan santun itu? Pentingnya relatif, yaitu sejauh terkait dengan prinsip yang lebih mendasar: respek terhadap budaya lain. Sikap hormat ini tak menyatakan bahwa, misalnya, tidak bersendawa itu lebih baik daripada bersendawa setelah makan atau memanggil langsung nama orang itu lebih tinggi nilainya daripada dengan atribut ‘mas’, ‘bang’, dll. Sikap hormat ini pertama-tama merupakan respek terhadap orang lain sebagai pribadi yang bermartabat: bukan karena kecerdasan otaknya, bukan karena kemampuannya membayar izin pendirian bangunan, bukan karena hubungan darahnya dengan pejabat, dan sebagainya.

Saya sangat salut pada seorang penumpang dalam travel ber-AC yang duduk di depan saya dan mulai membuka kaca jendela karena ingin merokok. Ia minta izin pada sopir, tapi kemudian juga bertanya apakah saya berkeberatan jika ia merokok. Sopir tak punya problem, dan saya mengatakan,”Bisa tunggu sebentar lagi gak, Mas? Sebentar lagi saya turun kok.” Saya kira dia agak kecewa, tetapi saya salut karena kepeduliannya dan jiwa besarnya. Di balik itu, ia tidak menganggap sopir dan saya sebagai barang!

Banyak orang mereduksi cinta sebagai barang, dan meskipun sudah diberitahu bahwa asumsi itu keliru, tetap saja orang mempraktikkan relasi cinta yang korup itu. Itu juga cacat moral: sudah ditegur supaya tak memarahi anak di hadapan teman-temannya, seorang ibu bisa tetap saja memaki-maki anaknya di depan teman-temannya. Tindakan seperti ini juga cacat moral, tetapi tak perlu dilaporkan ke Polda DIY, apalagi sampai ditahan. Mana cukup rumah tahanannya?!

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s