Tuman

Memang dasar sifat manusia ya, gak pernah merasa puas, gak cuma terhadap barang duniawi, tapi juga ‘barang’ yang batiniah. Atau mungkin malah lebih tepat dikatakan, sifat tak pernah merasa puas itu justru mengacu pada ketidakpuasan batiniah, bukan pada barang duniawinya sendiri. Bayangkan PNS yang punya gaji lebih dari cukup, yang masih saja mencari cara untuk nilep anggaran dengan aneka macam cara. Apakah ia butuh duit? Tidak! Ia menginginkan hal lainnya yang bisa diperoleh dengan duit itu! Apa hal lain itu? Gak tau, tiap orang berbeda-beda. Anda kira ia butuh mobil mewah yang bisa dibelinya dengan uang tilepan itu? Tidak! Ia menginginkan sesuatu yang lain: pengakuan dari orang lain. Mobil mewah itu cuma kendaraan atau sarana supaya ia mendapat pengakuan itu. Puas dengan pengakuan dari masyarakat bahwa ia jadi orang sukses? Tidak. Ia kemudian bisa mencari cara lain supaya ia punya kekuasaan. Begitu seterusnya. Bukan barang duniawi yang dikejar, melainkan sesuatu yang lebih bersifat batiniah.

Celakanya, yang batiniah itu tak pernah terpuaskan sebelum orang sampai pada sumber atau muara ke-batiniah’an itu. Dalam bahasa S. Augustinus dikatakan bahwa jiwa orang tak pernah tenang sampai beristirahat dalam Tuhan. Mati kowe! Sebelum orang mati, jiwanya tak pernah akan tenang (dan celakalah orang yang setelah mati pun jiwanya juga gak tenang)!

Ketenangan batin tidak diperoleh dengan mengumpulkan sarana-sarana duniawi, tetapi justru dari sikap detachment terhadap sarana-sarana itu. Sikap detachment itu digambarkan dalam narasi hari ini: Yesus menyembuhkan orang sakit dan semua orang berbondong-bondong meminta penyembuhan. Itu wajar. Tetapi dalam bagian akhir teks dikatakan bahwa orang banyak mencarinya dan setelah menemukannya, mereka berusaha menahan dia supaya tidak meninggalkan mereka. Sikap orang banyak itu adalah ilustrasi sikap attachment yang bersifat kolektif. Yesus, sebaliknya, menghayati suatu detachment atas lokasi dan orang-orang. Mungkin bisa dikatakan dia punya attachment terhadap penyembuhan karena toh dia mengklaim mesti pergi ke kota-kota lain untuk pewartaan Kabar Gembira?

Menurut saya sih, itu bukan attachment, melainkan passion yang menggerakkan hidup Yesus. Yang jelas, Allah dan Kabar Gembiranya tak pernah jadi objek attachment. Begitu jadi objek attachment, ia berubah jadi berhala dan penyembahnya jadi fundamentalis, radikalis, teroris, fanatis, kaca-mata-kudais, dan sejenisnya. Jalan ke arah sana diretas oleh yang namanya addiction yang dicicil oleh kebiasaan yang bernama tuman (sejenis ketagihan pada tahap awal)!

Pengalaman akan Allah, perlu disikapi bukan dengan sikap tuman, melainkan dengan kesadaran bahwa pengalaman itu mengundang pada tanggung jawab untuk mewartakannya, dan pewartaan ini tidak dimaksudkan supaya orang lain mengalami pengalaman yang sama, tetapi supaya setiap orang, dalam bahasa Paulus pada teks bacaan pertama, bisa jadi ‘kawan sekerja Allah’. Orang yang jadi ‘kawan sekerja Allah’ ini akan memandang seluruh pekerjaannya sebagai pekerjaan bersama Allah. Ia bekerja keras dengan kesadaran bahwa Allah juga bisa menyisipkan sesuatu yang unpredictable. Jadi, sante aja bro’, tak perlu tuman dengan pengalaman excited. Pergi dan wartakanlah Kabar Gembira!

Tuhan, mampukanlah kami untuk pergi keluar dari diri kami sendiri untuk mewartakan Kabar Gembira-Mu. Amin.


RABU BIASA XXII
31 Agustus 2016

1Kor 3,1-9
Luk 4,38-44

Posting Rabu Biasa XXII B/1 Tahun 2015: Kalau Sembuh Trus Ngapain?
Posting Rabu Biasa XXII Tahun 2014: You are God’s Coworker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s