Ini 212 Beneran

Tadi malam saya menonton film aksi-komedi berjudul 212 Warrior. Apa yang Anda harapkan dari film aksi-komedi? Ya entah. Kalau saya sih, memang sengaja menontonnya di bioskop untuk merasakan sinematografinya dan barangkali kesablengan-kesablengan yang menghibur atau bisa mengundang tawa. Syukurlah saya masih bisa tertawa, karena kalau tidak, bisa jadi saya sedang punya problem mental. Saya tak ambil pusing dengan beberapa scene yang terasa mengganjal atau dialog garing atau apalagi deh yang bisa dikritik. Pokoknya, kesan saya, paruh pertama nuansa komedinya kental, paruh kedua kesan aksinya menonjol, tetapi secara keseluruhan saya mengapresiasi teknik pembuatan filmnya. Sebetulnya sih wajar saja karena diproduksi juga oleh 20th Century Fox meskipun aktor aktrisnya lokal.

Omong-omong, kapan aktor atau aktris itu dikatakan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka ya? Sepertinya sih ketika mereka bisa menyembunyikan karakter asli mereka dan menampilkan tokoh yang mesti mereka tafsirkan. Artinya, mereka bisa merepresentasikan tokoh cerita yang mungkin tak bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Nah, teks bacaan hari ini juga bisa dilihat dari perspektif ini. Orang Farisi dan beberapa ahli Taurat merasa diri sebagai representasi pembela iman yang benar. Maka, mereka merasa berhak mengontrol apa yang diajarkan guru dari Nazareth. Menurut mereka, guru dari Nazareth dan murid-muridnya adalah pembangkang, pelanggar tradisi. Padahal, bisa jadi guru dari Nazareth itu malah melihat mereka sebagai representasi komedian iman.

Kata tetangga saya, istilah ‘munafik’ atau ‘hipokrit’ itu memuat kualitas aktor atau aktris. Memang dalam arti tertentu aktor atau aktris itu mesti mengatakan dan melakukan hal yang bisa jadi bertentangan dengan apa yang dia rasakan atau dia pikirkan. Lha piye jal, namanya juga memerankan orang lain, ya mesti munafik dong. Maka dari itu, yang ditampilkan, yang dikatakan, berbeda dari yang sungguh-sungguh dipikirkannya; tinggal mengikuti naskah atau skripnya saja. Tak mengherankan, guru dari Nazareth itu mengambil kutipan dari Nabi Yesaya: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari-Ku.

Demikianlah. Barangkali memang ada jauh lebih banyak aktor atau aktris iman, atau sebaiknya modalitas barangkali itu dihapus saja: ada jauh lebih banyak aktor-aktris iman daripada orang berimannya sendiri. Aktor-aktris ini menunggangi agama yang memberikan skrip untuk dimainkan, dan Anda lihat sendiri bagaimana jadinya dunia ini amburadul, tak sesuai dengan nurani kemanusiaan sejati. Tak usah saya sebutkanlah kasus-kasusnya. Ini mesti bersangkutan dengan ketidakadilan sosial.

Omong-omong soal ketidakadilan, tetangga saya sedang membuat festival film loh. Memang tidak seperti Biennale Cinema 2018 di Venice sana hadiahnya, tetapi pasti ada hadiahnya delapan digit. Katanya, tema ketidakadilan itu gampang dicari dari hidup sehari-hari. Beginilah promosinya:

Semoga semakin banyak orang beragama yang jadi pendekar 212 sungguhan, pembela keadilan, bukan jadi aktor yang cuma bisa memainkan skrip orang lain, apalagi untuk bikin kekacauan bangsa yang baru saja memulai era baru ini. Kalaupun tidak begitu, semoga semakin banyak orang yang terlibat dalam pewartaan kabar gembira mengenai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama seturut kehendak-MuAmin.


HARI MINGGU BIASA XXII B/2
2 September 2018

Ul 4,1-2.6-8
Yak 1,17-18.21b-22.27
Mrk 7,1-8.14-15.21-23

Posting 2015: Made In Heaven

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s