Jojo Aku Padamu

Di penghujung milenium lalu saya sempat dihantui rasa bersalah karena tidak mengembangkan talenta saya (saking banyaknya #AsêmSombongéRèk). Selepas SMA, saya melepaskan kebiasaan berlatih biola, flute, atau organ [lha wong ora duwé]. Paling mending organ, masih beberapa kali memakainya untuk mengiringi teman-teman menyonyo. Akan tetapi, kemampuan membaca thokolan not balok untuk memainkan organ semakin sirna, dan teks bacaan hari inilah yang menjadi hantu bagi saya. Di situ dinarasikan hamba yang dibuang lantaran tidak mengembangkan talentanya. Dasar bodoh, saya dulu segera mengasosiasikan talenta itu dengan bakat. Padahal, bakat sendiri masih bisa dipersoalkan ada tidaknya. Begitulah nasib orang bodoh, dihantui rasa bersalah yang dibuat oleh pikiran sesatnya sendiri, termasuk di dalamnya menganggap Tuhan menakdirkan si anu jadi itu atau si itu jadi ini.

Talenta dalam teks bacaan hari ini memang terjemahan dari kata talentum (Latin) atau talanton (Yunani), tetapi keduanya sama sekali bukan bakat, melainkan satuan ukuran dalam perdagangan. Jadi entahlah siapa yang dulu membuat salah kaprah ini. Talenta dimengerti sebagai bakat, dan itulah yang membuat saya merasa bersalah. Tetapi saya tidak menyalahkan pembuat salah kaprah itu karena biar bagaimanapun memang saya yang tolol mengikutinya. Kalau saya guru agama Katolik atau Kristen, saya akan mengasosiasikan talenta itu sebagai Kristus berikut keutamaan-keutamaannya. Kalau saya guru agama Islam (dan membaca perumpamaan dalam teks bacaan hari ini), saya mengasosiasikannya dengan Firman yang tersirat dalam teks Qur’an.

Baik Kristus maupun Qur’an menjadi satuan ukuran yang terus menerus menuntut orang beriman untuk mencari dan menemukan apa yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah dalam hidupnya. Di situ termasuk juga apakah orang perlu mengembangkan ‘bakat’-nya yang ini atau yang itu seturut prioritas nilai yang diukur dengan kehendak Allah tadi, yang nota bene takkan pernah bertentangan dengan kemanusiaan universal. Maka dibutuhkan upaya pemahaman terus menerus seturut konteks hidup orang, diperlukan penafsiran atau apropriasi supaya Firman atau Kristus itu jadi kenyataan dalam hidup manusia.

Andaikan dulu Anda mengasah kemampuan bermain badminton, mungkin Anda bisa jadi alternatif bagi Jojo. Kalau punya paras cantik, Anda tak harus menjual kecantikan dengan modal perias wajah, tetapi bisa menyumbang emas bersama Wewey Wita. Begitu seterusnya. Soalnya bukan apakah Anda punya keterampilan ini itu, melainkan ke arah mana Anda bergerak, apakah sinkron dengan martabat kemanusiaan dan passion Anda sungguh tercurah di situ atau Anda cuma jadi separuh orang. Saya bangga pada Jojo bukan karena pertama-tama dia menyabet emas, melainkan karena ia mencurahkan passionnya dalam keterampilan yang digelutinya (tentu berlaku untuk Ginting dan atlet lain). Itu terlihat dalam perkembangan permainannya (jangan lupa, saya dulu atlet badminton sewaktu SD loh; gantung raket setelah saat seleksi sudah unggul 14-1 lalu lawan minta istirahat – kok isa (!), dan setelah jeda malah kalah, hiksss, serasa melawan Lius Pongoh). Saya tidak akan meniru selebrasinya [kalau emosional, saya gak buka baju, tapi bagi-bagi duit, haha…. itu makanya saya tidak emosional, karena gak punya duit], tetapi saya tiru bagaimana ia tidak setengah-setengah, total, maksimal dalam tahap hidupnya.

Ya Tuhan, mohon rahmat untuk bertekun dalam panggilan hidup-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXI B/2
1 September 2018

1Kor 1,26-31
Mat 25,14-30

Sabtu Biasa XXI A/1 2017: Relasi Sehat
Sabtu Biasa XXI A/2 2014: Kitorang Bodoh Semua, Flo

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s