Relasi Sehat

Jarang sekali ada orang yang mau dibanding-bandingkan dengan orang lain, tetapi ironisnya ia sendiri malah membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Entah apa namanya, dianu gak mau tapi maunya nganunjuk karepmu opo! Orang lupa bahwa kalau ia tak mau kecurian, itu mengandaikan tidak ada orang yang mencuri. Begitu pula kalau orang tak mau di dunia ini hidupnya dirampas, itu diandaikan bahwa tidak ada yang merampas. Lha kok bisa, gak mau dibanding-bandingkan tapi malah membanding-bandingkan? Lha ya bisa wong namanya juga gak konsekuen, maunya menang sendiri. Minta didengarkan tetapi sendirinya gak mau mendengarkan!

Nah itu tadi adalah contoh dari interpretasi teks yang berbau-bau pemerkosaan teks yang dibacakan hari ini. Betapapun yang disampaikan di situ bisa jadi benar dan mungkin inspiratif, tetapi itu bukan dunia teks yang ditawarkan kisah teks hari ini. Jebulnya emang gak gampang membaca pesan dari suatu cerita karena setiap orang sudah punya frame, prasangka atau asumsi sendiri dan kerap kali asumsi itulah yang dibawanya untuk mengartikan suatu teks. Jadinya tersesat deh, dan kadang bisa jadi menyesatkan orang lain juga dengan hoax-hoax ala Saracen (inginnya hati ini sumber bisnis hoax itu terbongkar sebelum pada kabur ke luar negeri semua). Mana kala ini menimpa saya, ampunilah saya ya, saya kan manusia juga (enaknya, minta maaf mah gampang; akibatnya orang baik dipenjara tuh, maaf-maaf aje lu! Iya Bang, pokoknya maapin aye, Bang! #emangnyegueBambang).

Teks tidak mengindikasikan bahwa penerima sedikit talenta itu membuat komplain karena ia cuma mendapat satu talenta, membandingkan dirinya dengan orang lain. Dia bahkan sudah tahu bahwa tuannya itu kejam dan karena itulah dia malah memendam talentanya. Talentanya mandul, tak membuahkan hasil.
Kalau melihat label yang diberikan tuan itu, penilaian ‘baik dan setia’ diberikan kepada penerima lima dan dua talenta. Sedangkan kepada penerima satu talenta ini labelnya ‘jahat dan malas’. Saya kira ini bukan label terhadap penjahat yang merampok harta tuannya, melainkan jahat dan malas yang dikontraskan dengan ‘baik dan setia’ tadi.

Sekarang andaikanlah ada hamba yang baik dan setia. Kebaikan dan kesetiaannya tentu mengacu pada relasinya dengan tuannya dong, mosok baik dan setia pada tetangga tuannya. Tentu boleh saja dia baik pada tetangga, tetapi penilaian yang diberikan tuannya tetaplah pertama-tama karena relasi hamba itu dengan tuannya. Beda halnya dengan hamba yang menilai tuannya kejam. Kiranya dia tak punya ikatan afektif selain rasa takut dan diam-diam memusuhi tuannya karena dianggapnya kejam.

Nah, di situlah saya melihat poinnya: orang bisa menumpuk aneka prestasi dan kesuksesan, tetapi aneka hal itu tak bisa disebut sebagai buah kehidupan kalau tak ada relasi yang sehat dengan pemberi kehidupan sendiri. Hartanya bisa ada di mana-mana, perusahaannya bisa tersebar di seluruh penjuru, senjata nuklirnya juga siap memusnahkan setiap musuh, tapi di lubuk hati terdalamnya, tanpa ‘klik’ dengan Sang Pencipta, semua itu hanyalah bentuk pemendaman talenta yang tidak membuahkan kehidupan, malah mengancam kehidupan. Hidupnya defensif, mengarah pada keselamatan diri sendiri, dan ujung-ujungnya malah kehilangan arti hidup sendiri, yang semestinya mengalir.

Ya Allah, pun saat letih mencari-Mu, berilah kami rahmat kesetiaan kepada-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXI A/1
2 September 2017

1Tes 4,9-11
Mat 25,14-30

Sabtu Biasa XXI A/2 2014: Kitorang Bodoh Semua, Flo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s