Pemelihara Harapan Palsu

Persoalan PHP bukan pertama-tama pada pemberi, melainkan penerima. Pemberi cuma bisa berjanji, yang berharap kan penerima janji itu. Ini sudah sedikit terulas pada posting Penggemar Harapan Palsu dan takkan diulang pada catatan hari ini. Para penggemar itu cenderung menyimpan harapan palsu. Penyimpan harapan palsu ini bisa jadi juga penyimpan iman dan cinta palsu; Kitab Suci palsu, kebenaran palsu, dan lebih mengerikan lagi: menyimpan Allah yang palsu!

Mana bisa Allah disimpan? Kalau bisa disimpan ya namanya bukan Allah. Dia seperti angin, yang bergerak ke mana Dia mau. Begitu dikekang dalam botol, barangkali itu jin atau tuyul atau apalah. Loh loh loh, katanya Allah itu maha hadir, Dia bisa hadir di mana saja, bukan? Betul, tetapi kehadiran-Nya tidak identik dengan adanya benda material yang bisa ditangkap indra manusia seperti meja dan kursi, yang ada di koordinat tertentu. Kehadiran Allah itu adalah kehadiran istimewa dalam kesadaran makhluk yang terorientasi kepada Yang Transenden itu. Kesadaran ini terus bergerak untuk menguak Yang Transenden itu. Begitu berhenti pada monumen, Allah lewat.

Pada saat saya kelaparan sepulang mengajar dan rapat di sore hari, saya berhenti di warung siomay dan bubur ayam. Saking laparnya, saya pesan dua porsi. Sewaktu menunggu pesanan itulah seorang ibu yang mengemis dengan pakaian lusuhnya (plus aroma keringat yang hmmmm, haha… padahal ya sama-sama kecut) mendekati saya dengan menyodorkan kaleng susu yang kosong. Saya bukan penggemar pengemis; sangat jarang saya memberi uang kepada pengemis.

“Ibu sudah makan?” tanya saya dan ibu itu menggeleng. Seluruh dialog ada dalam bahasa Jawa dan saya berusaha sehalus mungkin. “Ibu mau bubur ayam, gak?” tanya saya dan ibu itu malah terheran-heran tapi kok ya masih saja berdiam di situ. Tak tahu pula dia bahwa saya sangat jarang memberi uang kepada pengemis.
“Ibu mau makan, gak? tanya saya lagi dan ibu itu menjawab,”Ya mau.”
“Saya sudah pesan dua porsi bubur. Kalau Ibu mau ya silakan makan satu porsinya.”
“Wah nanti saya mengganggu.” (Maksud lo? Apa gue kudu makan dua porsi gitu?!)
Enggak, Bu’. Apa kalau Ibu makan itu bisa nyambi mukuli orang di sekitar?”
“Ya tidak, Pak!”
“Lha ya berarti Ibu gak akan mengganggu saya kalau cuma makan bubur ayam.” Pada saat itu dua mangkuk bubur ayam tiba di meja di hadapan saya
. Sang pengemis masih berdiri.
“Nah, ini sudah datang. Silakan, Ibu mau makan di depan saya atau sebelah saya sini?” Wahaha… Ibu itu malah terlihat bingung. “Ayo, Ibu mau makan, gak? Gak apa di depan saya atau di sebelah sini.” (sejujurnya, pun kalau cuma menanggung kecut keringatnya saya masih sanggup kok)
“Wah nanti saya mengganggu, Pak.” Weladalah… “Bu’, Ibu pernah makan sambil membunuh orang?”
“Lha ya tidak, Pak!” sahutnya. “Nah, berarti Ibu tidak akan mengganggu saya! Silakan.”

Akhirnya sang pengemis mengambil mangkuk bubur ayamnya lalu memilih makan di trotoar jalan (sebetulnya saya juga di trotoar sih, cuma duduk di bangku). Wis sak karepmulah. Poin saya adalah bahwa pada momen itu saya mengikuti gerak batin yang membuat konsolasi karena perjumpaan dengan pribadi pengemis dan saya boleh berbagi dengannya. Saya bersyukur bahwa Allah menyapa saya di situ. Lha mana Allahnya? Ya tentu tak bisa ditunjukkan. Dia bukan pengemis itu, bukan juga bubur ayam, bukan pula trotoar. Allah hadir dalam gerak roh yang mendorong saya untuk mengalami perjumpaan dengan sesama dan berbagi dengannya. Apakah pengalaman itu bisa terjadi lagi? Bisa saja, tetapi kalau dengan sengaja saya mencari-cari pengemis lain dan menawarinya sate kambing demi mengalami sensasi kegembiraan seperti itu, jadi tindakan kompulsif, dan yang ada adalah Allah palsu: dihadirkan dengan manipulasi formal (dipikirkan, direkayasa, dijadikan objek, kebiasaan). Ujung-ujungnya, keyakinan itu menjadi ideologis, tidak terhubung dengan perjumpaan konkret dengan alam dan ciptaan.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kesadaran kami senantiasa terarah pada-Mu. Amin.


HARI JUMAT BIASA XXI A/1
1 September 2017

1Tes 4,1-8
Mat 25,1-13

Jumat Biasa XXI C/2 2016: Faith Bank
Jumat Biasa XXI B/1 2015: Satpam 24 Jam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s