Separuh Orang

Baru kemarin saya posting soal tetap fokus meskipun orang bisa saja berpelukan, hari ini tersaji kabar mengenai air zamzam berstiker #2019gantipresiden. Poligama dipakai dan meskipun gerakan ini mungkin tak bisa dikatakan makar, orang tak bisa juga menganggapnya enteng seperti tokoh sebelah menyarankan supaya tidak menganggap enteng nilai rupiah yang mendekati angka 15 ribu. Cuma orang bodoh yang menganggap enteng hal-hal ini, entah beragama atau tidak. Ndêlalahnya, teks bacaan hari ini menyodorkan perumpamaan mengenai orang bodoh dan orang bijaksana. Akan tetapi, label ini bisa jadi rancu persis karena orang bodoh justru akan memberi label orang bijaksana sebagai orang bodoh (meskipun mengatakan dirinya bodoh dan orang lain pintar, sikapnya tetap kêmintêr alias merasa diri pintar bin tahu-segala).

Representasi orang bijak dan orang bodoh dalam bacaan itu memang agak jauh dari tradisi Jawa yang saya hidupi, tetapi poinnya bisa dimengerti: orang perlu berpikir global dengan keluasan ruang dan waktu, meskipun tetap berfokus pada yang hic et nunc, kini dan di sini.
Tiwul itu punya motor dan beberapa kali kehabisan bensin di tengah perjalanannya. Memang tidak ada fitur estimasi jarak tempuh motor dengan bensin dalam tangki dan dia tak mampu membuat perkiraan sendiri kapan bensin akan habis. Kalau dia bijak, justru karena tak mampu membuat perkiraan kapan bensin akan habis, dia akan melakukan seperti dilakukan Tiwal: tidak pernah membiarkan tangki bensinnya berisi kurang dari separuh.

Tiwal melakukan hal itu bukan pertama-tama karena khawatir mogok di jalan seperti diawali Tiwul, melainkan karena ia terbuka pada kemungkinan di luar kepentingannya sendiri. Bisa jadi ada orang lain butuh bantuan mendadak untuk hal yang sangat penting. Bisa jadi ada kebutuhan mendesak yang tak terantisipasi. Pokoknya, motornya tersedia untuk kepentingan sosial juga yang tidak jadi hambatan hanya karena kebodohan atau kecerobohan.

Andaikan Tiwul ini mahasiswa, dia adalah mahasiswa yang mediocre, yang biasa-biasa saja, yang kuliah hanya demi ijazah, gengsi atau nama baik. Maka, pun kalau sebetulnya ia punya potensi untuk lulus magna cum laude atau maxima cum laude (IPK 4), ia tidak mengusahakannya, tetapi ia sewot pada yang ber-IPK 4 dengan komentar,”Kalau cuma IPK 4 aku juga sebetulnya bisa.” Kenapa? Karena Tiwul memang mediocre sebagai mahasiswa. Ia lebih kerap melakukan hal lain yang menyenangkan hatinya daripada menempa dirinya. Lain halnya dengan Tiwal. Ia memang tak punya potensi untuk mendapat IPK 4, tetapi ia bisa menata prioritas hidupnya sedemikian rupa sehingga hasil studinya maksimal (meskipun tidak identik dengan IPK 4) dan ia tetap enjoy dengan aktivitas penting lainnya.

Kebijaksanaan orang tidak diukur dari seberapa banyak kepemilikan buku-buku bijaknya, tetapi dari fungsi sosial buku-buku bijaknya itu. Begitu pula halnya dengan harta. Orang bodoh mengumpulkannya untuk diri sendiri. Orang bijak mengumpulkannya untuk kepentingan sosial kemanusiaan (tentu termasuk kepentingan dirinya juga). Orang bodoh kuliah untuk sekadar mengejar ijazah atau IPK 4. Orang bijak kuliah untuk belajar sekuat mungkin, baik di dalam maupun di luar kampus. Orang beragama yang bodoh mengumbar proselitisme. Yang bijak mewartakan Kabar Gembira.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami tidak jadi pribadi mediocre. Amin.


JUMAT BIASA XXI B/2
31 Agustus 2018

1Kor 1,17-25
Mat 25,1-13

Jumat Biasa XXI A/1 2017: Pemelihara Harapan Palsu
Jumat Biasa XXI C/2 2016: Faith Bank
Jumat Biasa XXI B/1 2015: Satpam 24 Jam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s