Kenalkan: Poligama

Meskipun saya fans Jerman, impor bak sampah bikinan Jerman tidak begitu saja membuat saya bersenang hati. Bukan karena bak sampah itu diimpor untuk ibu kota dan bukannya kota istimewa tempat saya tinggal, melainkan karena itu menggathukkan asumsi lain: apa yang jadi sampah di negeri maju malah dianggap berkah di negeri sini.

Loh apa malah bukannya itu bagus dan sejalan pula dengan teks bacaan hari ini? Batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Ya jelas ga’ ada hubungannya wong ini bisnis impor bak sampah kok. Lha nek ra ana hubungane njuk ngapain bahas impor bak sampah, jal? Kenapa gak bahas aja koalisi keummatan yang terbentuk di Tanah Suci? Bukannya itu malah lebih cocok untuk blog ini, wong berhubungan dengan yang suci-suci?

Wah, maaps, membacanya saja saya sudah prihatin. Kadang sakitnya tuh di sini: saudara-saudara dekat saya yang muslim tak mau dibodoh-bodohi oleh perselingkuhan politik dan agama, tetapi lebih banyak saudara jauh yang makan junk food poligama (mungkin untuk melengkapi poligami), dan saya tak bisa menggapai saudara jauh itu dengan blog ini. Maunya saya bilang kepada mereka, kalau mau membangun keummatan, mulai saja ‘dari bawah’ dengan lembaga keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah, bukannya malah mulai ‘dari atas’, bahkan meskipun labelnya (Tanah) Suci. ‘Dari atas’ artinya dari paradigma kekuasaan. Kalau ‘dari atas’ itu memang sungguh hidayah sih, no problem, tapi pada kenyataannya malah sebaliknyalah yang terjadi.

Bacaan hari ini menunjukkan hal itu: penggarap-penggarap kebun anggur berkoalisi untuk menguasai kebun yang disewakan bagi mereka.
Sebetulnya Romo itu punya masalah apa sih dengan kekuasaan kok sepertinya sentimen banget?
Ya enggak, kekuasaan itu ya baiklah, sejauh dijadikan sarana untuk pelayanan kepada mereka yang dikuasai. Persoalan dengan kekuasaan itu kan cuma bahwa power tends to corrupt: yang semestinya mengabdi orang-orang yang dikuasai tadi malah dipakai untuk mengabdi kepentingan diri.

Itu mengapa misalnya saya tak mengerti mengapa muncul tagar #2019gantipresiden padahal penggagas tagar ini mungkin tak bisa menunjukkan bagaimana kekuasaan presiden sekarang ini dikorup untuk kepentingan presiden dan kroni-kroninya. Saya pun tak bisa melihat presiden pilihan saya ini memanfaatkan kekuasaan untuk semata kepentingannya sendiri. Kalau itu terjadi, tentu saya mendukung tagar #04062018gantipresiden, gak mesti tunggu 2019.

Saya berharap semoga semakin banyak WNI yang melek politik dan mau bergerak melawan benih-benih koalisi korup yang memanfaatkan label agama mayoritas. Ini mengerikan, selain menjijikkan, karena diam-diam berpotensi memecah belah warga NKRI. Kemarin-kemarin sudah dengan dikotomi partai Allah dan partai setan, sekarang dengan ‘keummatan’, besok apalagi. Semoga semakin banyak WNI yang tak mau lagi ditipu dengan strategi busuk yang memanfaatkan label-label keagamaan. Poligama adalah menu lama kesukaan orang-orang munafik. Temannya poligami gitulah.

Tuhan, mohon rahmat ketulusan hati supaya kami memanfaatkan kekuasaan kami semata demi kemuliaan-Mu dan sesama. Amin.


SENIN BIASA IX B/2
4 Mei 2018

2Ptr 1,1-7
Mrk 12,1-12

Senin Biasa IX A/1 2017: Spirit Gerakan, Eaaa…
Senin Biasa IX C/2 2016: Surat Tertutup untuk Ahoy
Senin Biasa IX B/1 2015: Maaf, Hukum Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s