Sekarang Poligambar

Kemarin sudah saya perkenalkan poligama, teman poligami, kepada Anda. Entah bagaimana, bacaan hari ini cukup eksplisit melawannya. Kasihan juga sih baru dikenalin dah langsung didemo, tapi ya gimana lagi, tugas saya cuma menyuarakan apa yang perlu disuarakan .

Poligama ini mencampuradukkan politik dan agama, sedangkan teks bacaan hari ini jelas mengacu pada arah yang berlawanan: bedakan dan pilah-pilahlah keduanya. Bukan berarti tak ada hubungannya sih, tapi dipisahkan ranahnya. Ini mirip-mirip dengan relasi antara moralitas dan agama: terhubung secara psikologis, bukan secara logis. Artinya, agama itu memberi motivasi untuk bermoral, tetapi bermoral atau tidaknya seseorang tidak ditentukan apakah ia beragama atau tidak. Jadi, dalam hidup bersama, tak usahlah arogan mengklaim bahwa orang beragama lebih baik dari yang tak beragama. Dalam hidup berbangsa dan bernegara dengan kenyataan manusia yang beragama, wacana kafir-nonkafir (fidel-infidel) itu gak relevan, bahkan mungkin bisa berpotensi membahayakan: dipakai si poligama tadi untuk berebut kekuasaan. Paham ora, Son?

Oleh karena itu, tak perlu heran kalau orang seperti saya ini tak akan pernah masuk dalam ranah politik praktis. Ya pernah sih dulu cawé-cawé dalam demo ’98 atau bertengkar dengan pedagang kaki lima yang merampas keadilan pejalan kaki dan kedaulatan rumah tempat saya tinggal, tetapi itu bukan dalam agenda besar untuk membuat tatanan politik praktis seturut wudel saya. Itu hanya untuk menyerukan jeritan moral supaya orang, siapapun dia, tidak memperlakukan sesamanya secara tidak adil. Memang sih ada muatan emosinya, tapi sudahlah, itu masa lalu…

Dari perspektif bacaan hari ini, orang beriman mesti pintar-pintar mengidentifikasi mana Allah dan mana kaisar supaya bisa sungguh berbakti kepada Allah tanpa mengabaikan eksistensi kaisar. Jalan keluarnya bukan poligama, melainkan poligambar! Horotoyoh opo maneh! Wis sakkarêpmu Rom arep omong opo! Lha iya ini sudah semau saya . Yesus yang dijebak oleh orang Farisi dan kaum Herodian memainkan politik gambar. Pada posting terdahulu (Duit buat Allah) sudah dijabarkan bagaimana Allah itu seakan kemaruk alias rakus karena ujung-ujungnya semua ini ya kembali kepada-Nya (koin bergambar kaisar ya wajar untuk kaisar, tetapi karena kaisar juga orang dan orang adalah gambar Allah, ia pun mesti mengabdi Allah). 

Poinnya untuk orang beriman ialah supaya ia konsisten dan merdeka dari aneka macam belenggu yang menghambatnya untuk kembali kepada-Nya itu. Konsisten gimana? Lha ya itu, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kalau gak mau bayar pajak pada Kaisar, ya jangan pakai uang yang diedarkannya dong! Beragama kok seenak wudelnya sendiri menyatakan Kaisar dan penjajah kafir, tetapi diam-diam menikmati jerih payah si kafir? Yakin beragama seperti itu akan mengantarkan orang pada kemerdekaan dan bisa kembali kepada Allah baik-baik saja? Yakin? Ya sudah kalau yakin, saya ya cuma tanya kok…

Tuhan, bantulah kami supaya semakin mampu menjadikan segala jerih payah usaha kami sebagai sarana untuk memuliakan nama-Mu. Amin.


Selasa Biasa IX B/2
Pw S. Bonifasius
5 Juni 2018

2Ptr 3,12-15a;17-18 
Mrk 12,13-17

Selasa Biasa IX A/1 2017: Pasti Orderan
Selasa Biasa IX B/1 2015: Duit buat Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s