Kelak Poliandri?

Pada kolom comment fesbuk saya muncul pertanyaan penting untuk posting mengenai hancurnya paradigma keluarga modern yang baru akan saya bagikan hari ini. Yang bertanya ini rupanya memang visioner dan pertanyaannya tidak mudah saya jawab, tetapi rupanya ada dalam teks bacaan hari ini. Pertanyaannya terkait dengan kalimat bahwa free sex posmodern memuat kesalahan metodologis: apa sih kesalahan metodologisnya?

Bacaan hari ini menyodorkan sindiran orang Saduki terhadap keyakinan akan adanya kebangkitan kelak. Sindirannya dengan studi kasus imajiner: kalau ada perempuan berpoliandri (meskipun tujuh suami tidak dalam waktu bersamaan sih), nanti setelah kebangkitan, siapa suami perempuan ini? Sindiran ini dilandasi oleh kesesatan berpikir: menyamakan dunia sebelum dan sesudah kebangkitan. [Masuk akal sih cara berpikirnya karena mereka tak percaya kepada kebangkitan, yang bisa mereka pikirkan ya cuma dunia sebelum kebangkitan. Justru karena itulah Yesus menyebut mereka sesat.]

Nah, trus kalau di dunia setelah kebangkitan itu tak ada status kawin dan dikawinkan, seperti malaikat, cintanya universal, tanpa ikatan perkawinan, kenapa sekarang ini seks tanpa ikatan perkawinan alias free sex atau seks dengan banyak pasangan entah resmi atau tidak itu malah dipersoalkan? Bukankah itu justru profetis sifatnya, menggambarkan hidup nanti setelah kebangkitan yang di dalamnya tak ada lagi ikatan perkawinan?

Cara berpikirmu sesat, Son. Tak usahlah pakai tameng filsuf Michel Foucault [wong belum tentu juga ngerti alur pemikirannya] tetapi jujurlah saja pada pengalaman seksualitas: ada gitu orang yang sejak awal sampai akhir hayatnya menghayati one-night stand [itu loh, relasi seksual yang cuma seumur satu malam] dan hidupnya bahagia? Hahahihi iya, bahagia mah tanda tanya besar. Yang ada justru orang terluka batin karena relasi seksual manipulatif semacam itu: kalau tidak sepihak, ya dua pihak, bahkan mungkin lebih. Lagipula, kalau happy dengan apa yang ada, kenapa mesti gedabikan gonta-ganti pasangan, tapi kalau memang mau universal beneran seperti malaikat kenapa mesti membuat seleksi?

Kesalahan metodologis paham free sex dengan dalih cinta universal dunia-sono ialah bahwa penganutnya melakukan reifikasi cinta universal dunia-sono itu. Masih ingat reifikasi kan? Enggak ya? Sama dong, tapi masih ada posting Dunia Jadi-jadian dan halaman Orangnya Semprul yang mungkin bisa membantu mengingat-ingat. In other words, [ciyeee pake’ basa Énggrés] hukum dunia-sono diterapkan di dunia-sini tanpa melihat fakta perbedaan dimensi, yaitu dunia kebertubuhan sebelum kebangkitan. Tubuh sebelum dan setelah kebangkitan itu beda, Son. Menganggap dunia-sini seperti dunia-sono, itu laksana menonton film berlayar 2D dengan menggunakan kacamata 3D: rempong amir

Kalau cuma diterapkan di bioskop mungkin hasilnya ya just for fun, tapi kalau seksualitas orang mau direduksi sebagai medium just for fun, saya jamin, mesti ada yang terluka atau orang kehilangan kualitas kebinatangannya. Loh, Rom, bukannya malah bagus ya orang kehilangan kualitas kebinatangannya? Hahaha, gak tau saya mana yang lebih bagus. Yang jelas, saya belum pernah kenal binatang yang menghidupi free sex dengan dalih cinta universal. Bahkan malah ada binatang yang benar-benar sehidup semati monogami.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami sanggup setia pada-Mu. Amin.


RABU BIASA IX B/2
6 Juni 2018

2Tim 1,1-3.6-12
Mrk 12,18-27

Rabu Biasa IX A/1 2017: God of the Living
Rabu Biasa IX C/2 2016: Mau Dikebiri Eaaa…

Rabu Biasa XI B/1 2015: Mari Rekayasa Chemistry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s