Dunia Jadi-jadian

Yang saya ketik ini bukan kata-kata saya, melainkan pengamatan dosen saya yang menengarai bahwa di Indonesia ini sudah ada begitu banyak disertasi yang memuat aneka macam teori tetapi hampir bisa dikatakan tak ada dari teori yang bejibun itu yang sampai pada penerapan. Ya maklum, yang penting kan disertasinya selesai, perkara teori yang dituliskannya sambung dengan kehidupan atau tidak, itu urusan belakang. Mengerikan juga kalau halnya begitu: yang semestinya jadi sarana malah akhirnya jadi tujuan akhir dan segala teori jadi omong kosong, konsep yang semestinya membantu orang masuk dalam realitas malah cuma jadi reifikasi dan yang khayal dianggap nyata.

Contoh reifikasi itu terjadi pada konsep agama yang dulunya sebetulnya lebih akrab dengan soal-soal berbau keimanan, tetapi lama kelamaan karena pola relasi kekuasaan njuk konsep agama malah merujuk pada hal lain. Mungkin ini simplifikasi: apa relevansinya label Kristen dan Islam ketika orang berhadapan dengan orang yang terkena musibah dan butuh bantuan? Apa relevansinya solidaritas penganut agama A padahal de facto si A ini jauh lebih akrab dan punya kesamaan visi hidup dengan orang lain yang menganut agama B? Orang dipecah-pecah oleh label yang sebetulnya tidak merujuk pada kenyataannya sendiri. Gak ada esensi ‘agama A yang sejati’ (karena esensi itu terus dibangun dalam relasi), tetapi dipaksakanlah labelling agama ABCDEF seolah-olah sekat agama ABCDEF memang nyata. Itulah yang disebut reifikasi dan agama yang adalah bikinan manusia ada dalam risiko menjauhkan manusia dari instansi yang sesungguhnya hendak dituju oleh agama sendiri, yaitu Dia yang transenden.

Saya kutipkan poin yang ditulis oleh Kyle Lierk (klik linknya di sini), tetangga dari Amerika, yang mungkin bisa jadi warning terhadap tendensi reifikasi itu. We have two contemporary voices in Thomas Merton and Pope Francis who remind us to watch our steps on the slippery slope of inauthenticity.  Merton, the Trappist monk and modern day mystic, wrote in New Seeds of Contemplation, “There are people dedicated to God…who try to draw everyone else into activities as senseless and as devouring as their own.  They are great promoters of useless work.  They love to organize meetings and banquets and conferences and lectures.  They print circulars, write letters, talk for hours on the telephone in order that they may gather a hundred people together in a large room where they will all fill the air with smoke and make a great deal of noise and roar at one another and clap their hands and stagger home at last patting one another on the back with the assurance that they have all done great things to spread the Kingdom of God.”  (p. 83)

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami tidak menjadi sandungan bagi mereka yang secara tulus ingin menjumpai-Mu. Amin.


HARI SENIN BIASA XXI C/2
Peringatan Wajib S. Augustinus
28 Agustus 2017

1Tes 1,2b-5.8b-10
Mat 23,13-22

Senin Biasa XXI C/2 2016: Geseng Dor
Senin Biasa XXI A/2 2014: Pengkhianat Agama: Kemunafikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s