Makan Perasaan

Kisah kemartiran Yohanes Pembaptis mengundang orang untuk bertanya bagaimana ia memandang dunia ini, dunia yang mesti di sana sini memamerkan kekuasaan, kebodohan, berahi, yang bisa melindas orang-orang yang tak punya hal-hal itu tadi. Tampaknya dunia ya begitu itu dan terus menerus akan seperti itu. Orang yang berkehendak baik malah mesti membayar mahal kebaikannya sedangkan orang culas tinggal melarikan diri dengan alasan suci ketika kedoknya terbongkar. Berfokus pada kekuasaan, kebodohan, atau berahi itu, bisa menyebabkan orang frustrasi sendiri, menumpuk kemarahan, kejengkelan, dendam, kekhawatiran, dan aneka macam perasaan negatif lainnya. Lha emangnya gak boleh ya Mo orang marah dan jengkel? Ya boleh ajalah, tapi apa gunanya menumpuk perasaan-perasaan negatif itu tadi?

Panggilan setiap orang beriman (mboh agamanya apa) ialah memandang dunia ini dalam visi imannya: mendugai apa maksud Allah membiarkan tragedi itu terjadi lebih daripada mencari bentuk-bentuk tanggung jawab yang mesti ditanggung oleh para pelakunya. Kalau orang yang tak berwenang sebagai penegak hukum malah berfokus pada pelaku kejahatan dan kekejiannya itu, hatinya ada dalam bahaya pusaran kesedihan, kemarahan, dendam, tanpa ampun, tanpa belas kasih, dan seterusnya. Lain halnya jika orang berfokus pada Allah yang terus menerus aktif hendak membangun kehidupan ini. Bisa jadi ia marah, kecewa, sedih, tetapi perasaan-perasaan itu tak membahayakannya karena ia tahu betul bahwa rasa marah-kecewa-sedih dkk itu tidak mengubah kenyataan apapun.

Orang beriman mentransformasi aneka perasaan negatif itu menjadi sesuatu yang lebih produktif bagi pemeliharaan hidup. Artinya, orang mencari celah yang perlu diakali supaya tragedi kehidupan tak perlu diulang kembali. Loh, tadi katanya dunia ya begitu itu dan terus menerus akan seperti itu, berarti ya bakal terulang lagi dong? Oh iya ya, tetapi sekurang-kurangnya tidak diulang kembali oleh orang yang sama (gantian dong) alias masih ada banyak kesalahan lain yang bisa dibuat, hahaha… just kidding. Pada kenyataannya, sejarah dunia ya tidak bergerak seperti itu. Orang barbar tidak lagi frontal seperti zaman dulu; kekejamannya semakin lama semakin sedemikian halus sehingga sampai-sampai orang lain tak merasakannya sebagai tindakan barbar, hahaha…. again-again kidding.

Pokoknya, kalau menatap Tuhan dan buah-buah yang dikehendaki-Nya dari kehidupan ini, orang beriman lebih mudah mentransformasi perasaan-perasaan negatifnya jadi kedamaian, ketenangan, kegembiraan, semangat untuk melakukan perubahan. Nah, di sini titik krusialnya: karena orang tak berfokus pada Allah Sang Penyelenggara, begitu dia merasa damai, tenang, gembira, lalu dia berhenti di situ, mengira bahwa tujuan orang beriman adalah mencari suasana damai, tenang, dan gembira itu. Tetoooot….. Anda belum beruntung, dan dijamin perasaan-perasaan positif tadi cuma tipuan sesaat.

Ya Tuhan, semoga perhatian kami semakin terarah kepada bagaimana Engkau senantiasa mendidik kami juga dengan aneka tragedi kebodohan yang kami buat sendiri. Amin.


PERINGATAN WAJIB WAFATNYA YOHANES PEMBAPTIS
(Selasa Biasa XXI A/1)
29 Agustus 2017

Yer 1,17-19
Mrk 6,17-29

Posting Tahun 2016: Minta Apa Eaaa…
Posting Tahun 2015: Diam Tanda Setuju?

Posting Tahun 2014: Florence oh Florence

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s