Tempe Garit

Saya pernah minta tolong teman untuk membelikan nasi rames di warung dan warungnya jadi heboh lantaran tiba-tiba suasananya jadi seperti program Waktu Indonesia Bercanda. Gara-garanya sederhana. Teman saya ini bukan orang Jawa (meskipun orang tuanya sih Jawa’). Dia lupa nama lauk yang saya minta secara khusus karena memang itu lauk legendaris di warung itu; 400 biji selalu ludes dalam waktu dua jam, dan sejak dulu tak pernah menambahnya jadi 500 biji [gumun tenan aku]. Penjual nasi ramesnya bingung karena teman saya ini menggaruk-garuk kepalanya sambil menyebut nama lauk itu “tempe yang gak pake’ baju’, Bu” (coba apa gak malu itu tempenya gak pake’ baju).

Tapi tentu saya tidak mau bahas tempe garit. Yang saya bahas adalah metafor yang disodorkan bacaan hari ini: kuburan yang dilabur putih. Itu jadi sindiran keras Yesus terhadap orang-orang beragama yang tampilannya doang cool, tapi dalamnya busuk. Memang kalau dipikir-pikir, Yesus ini ya pedas banget kata-katanya. Bukankah mendingan kuburan itu dilabur putih daripada kumuh kotor dan memberi kesan mengerikan? Hahaha… lha ya justru itu yang dipersoalkan Yesus: orang beriman kok ‘memberi kesan’ doang; justru itu yang namanya ja’im.

Biar gak ja’im, jadilah tempe garit!
Opo hubungane sih Mo? Ya gak ada hubungannya sih. Ini kan cuma usulan metafor daripada kuburan dilabur putih. Dulu sewaktu SD, saya seperti tikus, kalau makan tempe tidak tipis, selalu saya makan pinggirannya saja. Tetapi ada saatnya ketika tempe yang digoreng ibu saya itu begitu miroso alias tasty ketika saya punya sedikit kesabaran dan tidak langsung seketika mau makan minta digorengkan tempe. Tempe direndam agak lama sehingga bumbu sungguh meresap ke dalam.

Saya kira begitulah kiranya orang beriman. Ia seperti tempe garit yang dimasak setelah cukup waktu untuk membiarkan bumbu itu masuk ke dalam; tak cukup cuma dengan siraman rohani; tak cukup dengan membaca refleksi di blog seperti ini; tak cukup dengan jadi imam, biarawati, dll. Mesti ada cukup waktu untuk membiarkan Sabda Allah, bisikan ilahi, kebenaran universal itu meresap dalam budi, hati, dan kehendaknya. Lha piye mau meresap kalau tak ada waktu untuk sejenak hening dengan diri sendiri dan sibuk mencari follower ad maiorem diri gueh? Heeee…

Ya Tuhan, mohon rahmat ketenangan hati supaya Sabda-Mu sungguh meresap dalam diri kami dan terungkap dalam tutur kata dan tindakan kami. Amin.


HARI RABU BIASA XXI A/1
30 Agustus 2017

1Tes 2,9-13
Mat 23,27-32

Rabu Biasa XXI B/1 2015: Roman Collar, Wow…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s