Geseng Dor

Pernah jengkel karena orang-orang yang mengerumuni meja makan sembari makan di situ sementara masih ada orang lain yang kesulitan mengambil makanan karena kerumunan orang itu? Syukur kalau pernah, sekurang-kurangnya mengerti bahwa pun pada saat pesta, sebaiknya orang tidak menghalang-halangi orang lain (yang juga mau makan) dengan berdiam diri di bibir meja makan saking asyiknya makan dan ngobrol di situ.

Penulis Matius menyodorkan kritik Yesus terhadap praktik keagamaan pada masanya dan bahasa keras yang dipakainya mengindikasikan adanya kemunafikan tingkat berat dari sebagian mereka yang punya tanggung jawab religius. Yesus gak ikut-ikutan dalam debat argumentatif antara berbagai kelompok keagamaan waktu itu. Dari Yesus tidak kita peroleh ajaran atau doktrin teologi, tetapi nasihat tentang suatu religiusitas ‘murni’, yang muncul dari kedalaman hati. Religiusitas palsu tidak muncul dari empati kedalaman hati, tetapi dari kemuliaan diri yang cuma dilambari kognisi. Religiusitas macam begini menutup pintu Kerajaan Allah karena jadi blokade bagi keterarahan hati kepada Allah. Orang yang menghayati religiusitas seperti ini sangat teliti dengan pernik-pernik agama, tetapi imannya stagnan pada level ritualisme, legalisme, dan formalisme. Tak ada dinamika dalam dirinya karena mengira sudah menemukan kebenaran tunggal. Ironis, bukan? Bagaimana orang bisa membebaskan diri dari situ?

Pakai saja tadi ilustrasi kerumunan orang di bibir meja makan yang asyik menikmati pesta tetapi memblokade orang lain yang membutuhkan makan: geseng dikit dorGeser dikit dong supaya orang lain bisa masuk! Orang beriman sewajarnya jujur terhadap diri sendiri mengenai hal-hal yang sungguh mengantar orang pada relasi mendalam dengan Allahnya dan asesoris-asesoris yang bersifat tambahan yang sifatnya lokal, partikular, sementara, relatif. Membolak-balik hal ini cuma akan mengantarkannya kepada pintu gerbang fundamentalisme dan kemunafikan ala kaum Farisi dan ahli Taurat yang dikritik Yesus itu.

Memang sih, mengenang masa lalu nan indah itu sepertinya membawa damai dan kenyamanan karena tidak menuntut orang untuk bersusah payah membangun jembatan antara Sabda Allah dan sarana-sarana yang tepat dan relevan bagi konteks hidup orang. De facto tidak mudah untuk geser dikit karena karena geser dikit itu memuat konsekuensi untuk terbuka pada sesuatu yang baru.

Tuhan, mohon rahmat kepekaan batin supaya kami tidak jadi batu sandungan bagi mereka yang sungguh ingin berjumpa dengan-Mu. Amin.


HARI SENIN BIASA XXI C/2
22 Agustus 2016

2Tes 1,1-5.11-12
Mat 23,13-22

Posting Senin Biasa XXI A/2: Pengkhianat Agama: Kemunafikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s