Tampilanisme

Tanpa pengalaman cinta [nan gratis, maklum, hadiah], kepatuhan orang kepada norma atau hukum agama membuat Allah jadi berhala. Sebaliknya, kepenuhan hukum terealisasikan dalam tindakan cinta. Wah, cinta lagi cinta lagi! Dasar jomblo, bisanya omong doang! Eh, ada loh yang jomblo justru karena tindakan cinta, jadi bukan omong doang, eahaha…

Yesus melanjutkan kritik pedasnya kepada orang Farisi dan ahli Taurat yang terlalu lebay pada aturan-aturan detil dan malah kehilangan jiwa di balik aturan-aturan detil itu. Kenapa sih Yesus itu kok ya sepertinya keras banget terhadap orang-orang macam begini, orang-orang berkacamata kuda nan munafik ini? Nota bene: kritiknya itu berlaku juga bahkan untuk orang zaman sekarang yang nyinyir dengan rumusan tetapi mengabaikan substansi persoalan, untuk kita yang silau oleh tampilan sedemikian rupa sehingga wacana yang kita sodorkan senantiasa bertitik tolak dan berfokus pada tampilan.

Mari lihat perilaku orang buta dan munafik itu di angkringan. Ia mengambil sebuah tempe mendoan yang pada ujungnya bergantung tempe mendoan lainnya karena tepungnya melekatkan tempe yang satu dengan tempe yang lain. Pada saatnya membayar, orang buta dan munafik ini membayar satu mendoan karena ia memang hanya sekali mengambil satu [renteng] mendoan! Lha piye, mau dibahas dengan pendekatan apapun ya susah karena titik tolak dan fokusnya ‘pokoknya cuma satu’!

Tampilanisme dibutuhkan anak-anak sebagai pribadi yang memerlukan patron, yang belum bisa menangkap substansi, yang gerak kesadarannya mesti dari luar (tampilan) ke dalam. Maka dari itu, anak-anak senantiasa membutuhkan contoh, teladan, visualisasi nilai-nilai kebaikan yang bisa mereka tiru. De facto, gerak dari luar ke dalam ini termasuk kapasitas yang bisa dipelihara bahkan oleh orang setua ahli Taurat dan orang Farisi justru karena mereka terpukau oleh romantisme tampilan dan hidupnya malah kontradiktif yang disindir secara hiperbolik oleh Yesus: nyamuk di tempat minum ditapiskan, onta malah ditelan!

Peziarahan hidup manusia sewajarnya bertitik tolak dari interioritas ke eksterioritas, bukan sebaliknya. Tampilan itu penting sejauh menampilkan interioritas yang penting, bukan sebaliknya. Membalik kenyataan ini akan membuat orang gagal fokus dan tersesat jalannya dan keindahan hidup dalam peziarahan ini tercoreng oleh tampilanismenya sendiri.

Itu mengapa jarang sekali ada anak kecil yang jadi peziarah. Ikut orang dewasa berziarah iya, tetapi ia sendiri belum dapat melakukan peziarahan persis karena belum punya kapasitas untuk bergerak dari dalam ke luar; belum punya cukup modal untuk diolah, tetapi juga kemampuan meracik modalnya belum memadai karena baru bisa menakar dengan aturan; ia mungkin menguasai teknik meracik, tetapi belum punya seni meracik pengalaman cinta. Penyelesaiannya pun jadi legalistik, pokoknya mana yang boleh dan tidak boleh saja patokannya. Begitulah tampilanisme yang dalam taraf tertentu memang bisa menjijikkan. 

Tuhan, semoga kami semakin mampu melihat keindahan ciptaan-Mu dan tergerak untuk merealisasikannya dalam hidup kami. Amin.


SELASA BIASA XXI
23 Agustus 2016

2Tes 2,1-3.13-17
Mat 23,23-26

Posting Selasa Biasa XXI B/1 Tahun 2015: Cuma Bensin Yang Bisa Murni?
Posting Selasa Biasa XXI Tahun 2014: Mobil Keren, Mental Kere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s