Santo Pandir?

Perjumpaan sejati membuka perspektif orang-orang yang terlibat di dalamnya. Seseorang yang tergeletak sekarat di tengah jalan terharu karena ternyata ada orang yang peduli pada keadaannya. Sementara orang yang menolongnya barangkali baru pertama kali itu melepaskan tautan matanya pada layar Pokémon dan tergerak hatinya untuk keluar dari dunia virtual. Ini berbeda dari kerumunan orang di halte bus yang di dalamnya bisa terjadi orang saling bertatapan mata dan yang satu berkata dalam hati,”Wah, kece banget nih cewe!” dan yang lain berteriak keras-keras dalam batin,”Mauuuuuu dong dapet cowo ini!!!” Tak ada perspektif yang dibuka karena masing-masing pihak cuma melihat shopping listnya dan menyatakan mana yang cocok untuk dirinya dan mana yang tidak. Tak ada orientasi keluar dari diri sendiri.

Natanael yang diperingati Gereja Katolik hari ini adalah sosok terpelajar, yang mengenal Kitab Suci baik-baik sehingga ia tahu bahwa Mesias muncul dari Betlehem, bukan Nazaret (Mi 5,1-4). Maka, ketika Filipus memberitahu bahwa ia telah melihat Mesias, wajarlah ia mencibir,”Mana ada Mesias dari Nazaret?” Akan tetapi, Filipus mengajaknya,”Ayo liat aja sendiri!” (Kiranya nuansa teks Yohanes lebih luas daripada sekadar ungkapan kita sehari-hari ‘ayo lihat sendiri’) dan ketika Natanael datang, Yesus berkomentar,”Waini… orang Israel sejati!” Natanael terheran-heran kok Yesus bisa mengenalinya dan Natanael takjub bahwa Yesus tahu ia di bawah pohon ara sebelum Filipus mengundangnya untuk bertemu Yesus. Sebetulnya sih saya gak ngerti kenapa juga Natanael takjub, keknya biasa aja deh orang bisa mengingat seseorang yang pernah dilihatnya sepintas di suatu tempat tertentu. Apalagi ini di bawah pohon ara yang konon untuk orang Israel jadi tempat khusus untuk mereka yang hendak memeditasikan atau belajar Kitab Suci. Entahlah, ini saya tidak tahu persisnya objek ketakjuban Natanael itu.

Pokoknya, setelah ketakjuban itu Natanael menyatakan pengakuannya, kepercayaannya bahwa orang yang dijumpainya ini betul Mesias. Dalam arti itulah perspektifnya terbuka. Tadinya kan karena dasar keyakinannya pada Kitab Suci, ia ngotot bahwa Mesias itu gak mungkinlah dari Nazaret! Ia mesti dari Betlehem (Ini sebetulnya juga gak keliru sih wong memang Yesus lahirnya di Betlehem). Tetapi kiranya ia juga ingat apa yang dituturkan dalam Kitab Bilangan (24,15-19) bahwa poinnya Mesias itu mesti dari trah Yakub, dan trah itu kan gak cuma di Betlehem, bisa jadi dari tempat lain juga. Nah lu, bingung dah! Daripada bingung-bingung dengan Kitab Suci yang di sana-sini bisa jadi ada kontradiksi, mendingan terus mencari sosok Mesias dari Allah itu.

Natanael tentulah pencari Tuhan, dan Tuhan tidak hanya ditemukan dalam Kitab Suci. Dia bisa dijumpai juga dalam sejarah, dalam kekinian, asal orang sungguh mau terbuka pada pembongkaran perspektifnya. Itu yang dijanjikan Yesus: kalau kamu mengikuti aku, kamu akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada sekadar tebak-tebakan intelektual itu. Benarlah, Natanael menyaksikan bagaimana kenyataan Mesias memporakporandakan perspektif pandirnya. Itu terjadi dalam keterlibatannya sebagai murid Yesus, dalam tindak mengikuti Yesus, bukan dalam eksplorasi kognitifnya tentang teologi, Kitab Suci, ritual, hukum, tradisi, dan sebagainya.

Tuhan, bantulah kami supaya dapat membuka perspektif hidup kami dalam setiap perjumpaan. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. BARTOLOMEUS RASUL
(Hari Rabu Biasa XXI C/2)
24 Agustus 2016

Why 21,9b-14
Yoh 1,45-51

Posting Tahun Lalu: Mau Bikin Menara Babel?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s