Berantas Kebodohan

Apa artinya menjadi orang beriman di tengah zaman yang orang-orang beragamanya menghidupi poligama rebutan kekuasaan? Apa artinya menjadi murid di tempat banyak orang berpedoman “yang lain juga banyak yang melakukannya”? Apa artinya percaya kepada Allah pada saat orang banyak melakukan kebodohan demi kebodohan? Bukan apa-apa, soalnya memang poligama, heteronomi, kebodohan kolektif itu sangat mudah dilakukan dengan dukungan uang dan celakanya, uang ini bisa datang dari poligama yang berkelindan dengan kebodohan kolektif dari orang-orang heteronom (yang menentukan identitas diri seturut kata orang).

Si guru dari Nazareth menyodorkan jawaban langsung: cinta! Seperti sudah diterangkan di tempat lain, cinta di sini bukanlah kata benda, melainkan kata kerja. Kalau cinta dijadikan kata benda, ia jadi buah relasi kekuasaan dan bahkan kekerasan. Kalau memang mau dipaksakan sebagai kata benda, ia mestilah buah cinta sesungguhnya: kedamaian, ketenangan, pengendapan, kebahagiaan, kesetiaan, pertobatan, sukacita dan seterusnya.

Kalau begitu, kalau orang sungguh beriman, ia diliputi oleh aneka buah cinta tadi. Karena cinta kepada Allah, ia tahu bahwa ia dicintai Allah dengan segala nikmatnya dan karena itu ia dimampukan untuk mencintai sesama dan dirinya sendiri. Rumusan ini kiranya bisa diterima secara kognitif tetapi sayangnya hidup orang itu tak cuma berdimensi kognitif. Secara teoretis tahu bahwa Allah bisa mendidik orang dengan pengalaman jatuh bangunnya, tetapi secara afektif orang tak sanggup keluar dari kubangannya dan secara volutif bahkan tak punya keinginan untuk mengubah atau mentransformasi dirinya sendiri. Padahal, bisa jadi transformasi itu diawali dengan hal yang sangat sepele: membersihkan kamar, bangun pagi, olah raga, fokus pada tugas pokok, membuat jadwal pribadi seturut prioritas nilai yang wajar dan setia padanya, dan sebagainya.

Apa mau dikata, orang mungkin membuat kaprah antara cinta dan kesenangan. Orang bisa mengidentikkan cinta kepada diri sendiri sebagai upaya untuk menyenangkan diri sendiri. Ujung-ujungnya, cinta direduksi sebagai produk dengan kategori like-dislike, dan tentu saja sewajarnya orang mematuhi apa yang ia like [harus pake‘ s gak?] dan menjauhi apa yang ia dislikes [betul gak sih?]. Di situ orang bisa jadi mengalami sukacita, tetapi sifatnya temporer dan bersyarat. Bagaimana tahu sukacita yang bersyarat dan tidak, bisa ambil kasus yang bisa dimengerti anak SMP pada posting ini, misalnya. Sukacita yang tak bersyarat itu lebih awet dan mendalam.

Akan tetapi, kebanyakan murid bodoh memilih sukacita yang temporer dan bersyarat itu. Begitu juga orang beriman yang bodoh, mencari-cari Tuhan, membangun lembaga religius, merancang kesucian, mencari cinta lewat sukacita sesaat dan bersyarat. Kata sumber yang dikutip tetangga saya, kebodohan itu memang tak mengenal kasta; bahkan orang yang mengaku beriman pun bisa terserang kebodohan itu. Matriksnya digambarkan begini: 

Yang tak terserang kebodohan, barangkali jadi bandit kekuasaan atau kacung tak berdaya. Sedikit sekali yang jadi murid, beriman, beragama, masuk dalam kelompok orang yang intelligent. Betul juga ya yang disarankan guru dari Nazareth itu: Berjuanglah melalui pintu yang sempit itu! (Luk 13,24) 

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin mampu mencintai-Mu dalam tindakan kami mencintai diri dan sesama. Amin.


KAMIS BIASA IX B/2
7 Juni 2018

2Tim 2,8-15
Mrk 12,28b-34

Kamis Biasa IX A/1 2017: Hai Penista
Kamis Biasa IX C/2 2016: Tak Ada Tuhan dalam Liturgi
Kamis Biasa IX B/1 2015: Untuk Apa Ritual?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s