Bagi-bagi Pahala Dong

Dalam aneka kultur dikenal ungkapan ‘tangan kanan’ sebagai istilah untuk orang kepercayaan. Ungkapan ‘tangan kiri’, kita jarang dengar, tetapi dalam teks hari ini kita dapati ‘sebelah kanan’ dan ‘sebelah kiri’. Dalam mentalitas zamannya, berada di sebelah kanan sosok penting berarti menjadi yang pertama, dan berada di sebelah kirinya berarti menjadi yang kedua. Yakobus dan Yohanes rupanya tak mengerti permintaan mereka sendiri terhadap Yesus dan malah hendak memperalat Yesus supaya mereka ‘jadi orang’, ‘jadi penting’, ‘diperhitungkan’, dan sejenisnya.

Hari ini saya mendengar jawaban Yesus terhadap permintaan Yakobus dan Yohanes itu secara berbeda. Bunyinya kurang lebih: emang sih kalian bakal menderita juga sebagaimana nanti aku alami, tetapi soal apa yang terjadi sesudah penderitaan itu, bergantung kalian menghadapinya to?!

Jawaban itu bisa dimengerti dengan kata kunci ‘ojo dumeh’ alias ‘jangan mentang-mentang’: mentang-mentang kamu beragama (Katolik) njuk selamat gitu po? Dumeh bikin banyak lagu liturgi yang indah njuk otomatis imanmu dalem gitu po? Mentang-mentang Sabda Bahagia dan Injil menyebut orang miskin berbahagia njuk kamu yang memelihara mental kere itu bahagia gitu po?

Orang menginvestasikan uang, kemampuan, tanah, rumah dan semacamnya untuk di kemudian hari mendapatkan keuntungan. Itu wajar, begitulah ‘hukum’nya. Akan tetapi, hidup rohani, hidup dalam Tuhan, bersama Tuhan, tak bisa dipikirkan dengan logika macam begitu. That won’t do! Non va così! Pahala dalam hidup rohani tak bisa dimengerti sebagai hasil tabungan perbuatan moral baik seseorang! Akan tetapi, rupanya itulah pandangan populer bawah sadar orang: kalau orangnya baik, ya nanti matinya juga baik, takkan dapat celaka, pasti masuk surga (padahal ya semua orang masuk surga, cuma kapannya aja yang gak jelas).

Pahala yang diminta Yohanes dan Yakobus tidak terletak pada hasil di kelak kemudian hari, tetapi justru pada tindak berjerih payah dan menanggung penderitaannya sendiri. Ini penjelasan untuk anak SMP: kalau kamu minta teman mengerjakan PR yang sulit dan esok harinya ternyata dapat nilai bagus, kamu senang gak? Senang. Oke. Sekarang, kalau kamu menempelkan pantatmu di kursi untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang susah setengah mati, dan kamu mesti meninggalkan keinginan main game, dan esok hari kamu dapat nilai bagus juga, kamu senang gak? Senang. Nah, mana yang lebih memuaskan hatimu? Anak SMP yang jujur dengan batinnya menjawab: yang mengerjakan sendiri. Betul. Karena di situ ada kebutuhan achievement yang terpenuhi, ada kualitas askese yang menyertai, dan itu semua bekerjanya di ranah rohani.

Yohanes dan Yakobus tidak lulus SMP, maka mereka gak nangkep pertanyaan mereka sendiri. Syukurlah, mereka lama kelamaan mengerti juga bahwa pahala tak terletak pada duduk di kanan-kiri Yesus, tetapi pada tindakan yang dilandasi ketaatan akan kebenaran yang justru mengundang aneka bahaya dan kesusahan hidup.

Tuhan, semoga kami mensyukuri setiap tetesan darah yang boleh kami persembahkan pada-Mu untuk mencintai sesama yang membutuhkan cinta-Mu. Amin.


RABU BIASA VIII
25 Mei 2016

1Ptr 1,18-25
Mrk 10,32-45

Rabu Biasa VIII B/1 Tahun 2015: Jangan Tuntut Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s