Broken Home

Gak ada situasi broken home yang diakibatkan oleh ulah anak. Broken home senantiasa adalah dosa bapak atau simboknya atau dua-duanya yang egois, keras, hendak jadi megalomania atau seksmania, mau lari dari kesulitan hidup, dan sebagainya. Pokoknya penyebab broken home tak pernah bisa ditimpakan pada anak.

Akan tetapi, bahkan meskipun kamu, Nak, bukan penyebab situasi broken home, kamu tetaplah jadi bagian dari momok yang mengerikan itu. Coba lihat berapa banyak orang yang diam-diam takut membangun keluarga karena momok broken home. Coba tengarai adanya instansi, bahkan instansi pendidikan, yang pasang kawat duri supaya anak broken home tidak merepotkan kerja mereka. Pun kalau ada instansi yang tak memedulikan latar belakang broken home-mu,  itu artinya memang tak memedulikan dirimu, terserah kamu mau ngapain, pokoknya melawan aturan ya tinggal disikat.

Jadi, Nak, sebaiknya kamu akui saja dunia yang keras ini, tetapi jangan membiarkan dirimu ikut-ikutan seperti dunia yang ketakutan akan momok itu. Tak ada gunanya menyalahkan orang tuamu karena itu cuma bikin kamu seperti anak-anak yang sedang terbata-bata mengeja kata; yang kamu katakan benar, tetapi tak mengubah katanya sendiri. Broken home tak bisa kamu atasi dengan mengatur bapak simbokmu yang single parent supaya begini begitu. Broken home yang dilekatkan pada dirimu hanya bisa kamu hadapi dengan membangun identitas dirimu dari dalam, bukan dengan mengikuti pembisik luar yang tampaknya mengerti dirimu, tetapi mereka memanfaatkan kamu untuk menyenangkan hati mereka.

Belajarlah dari Bartimeus yang buta dan menginginkan kesembuhan. Dalam bahasa biblis, ini bukan cuma buta mata, melainkan juga buta spiritual, dan broken home bisa memasukkan dirimu ke sana. Maka, berteriaklah seperti Bartimeus, bukan untuk minta dikasihani orang lain. Bartimeus memang berteriak minta dikasihani, tetapi permintaan itu dia tujukan pada sosok yang memang sungguh berbelas kasih. Jangan minta dikasihani orang lain, Nak. Jangan mengemis rasa kasihan dunia ini.

Dengarlah kata-kata yang disampaikan kepada Bartimeus sebelum kesembuhannya tiba: imanmu telah menyelamatkan engkau! Bukan siapa-siapa. Bukan karena anak broken home lain ekonominya cukup (mungkin hasil ngartisnya). Bukan kondisi ekonomi yang menyelamatkan kamu, melainkan imanmu! Maka, terserah apa agamamu. Kalau kamu Islam, datanglah pada Allah yang maharahim yang menurunkan Kitab-Nya. Kalau kamu Kristen, datanglah pada Yesus Kristus, seperti ditunjukkan dalam bacaan pertama hari ini: datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Entah Islam atau Kristen atau lainnya, ujung-ujungnya sama: dengarkanlah Sabda Allah yang tertera dalam batinmu. Itulah yang akan menyelamatkan kamu, bukan uang, bukan teman, bukan status (Facebook)…

Kalau kamu tak percaya hal ini, selamat jadi bulan-bulanan dunia yang kejam, yang tak peduli pada status broken home-mu. Kamu tahu kasus rumah sakit di Jakarta yang jadi komoditi politik dan siapa yang punya empati pada penderita kankernya? Dunia ini kejam, Jendral!

Sebaliknya, jika kamu percaya, berhentilah menyalahkan orang lain dan berdirilah di atas kakimu sendiri dalam rengkuhan Sabda Allah. Ini bukan arogan, melainkan realistis: bukan orang lain yang mengubah hidupmu, melainkan kamu sendirilah! Tuhan menyertaimu. Amin.


KAMIS BIASA VIII
26 Mei 2016
(Pesta Wajib S. Filipus Neri)

1Ptr 2,2-5.9-12
Mrk 10,46-52

Kamis Biasa VIII B/1 Tahun 2015: Untuk Apa Minta Sembuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s