Broken Spirit

Ini lanjutan posting kemarin, Broken Home, Nak. Aku gak suka memberi nasihat, karena kamu cuma terima gaji eh… terima jadi, tidak mengambil pesan sendiri dari teks asli. Tapi okelah, nasihatku sederhana: jangan minta orang lain untuk ambil tanggung jawab atas hidupmu sendiri. Kamu sudah dilatih berjalan, bicara, membaca, menulis, disekolahkan sampai SMA, dan sebagainya. Ini saatnya kamu ambil tanggung jawab itu.

Teks hari ini omong soal pohon ara yang tak berbuah pada musimnya dan dikutuk Yesus. Mengenai pohon ara, bisa dibaca lagi posting Malaikat Kurang Kerjaan. Mari lihat kutukan Yesus terhadap pohon ara yang gak berbuah saat bukan musimnya berbuah. Maksa banget kan Yesus ini? Normal saja toh pohon berbuah seturut musimnya? Akan tetapi, justru itu yang mau dikritik Yesus, yang berhubungan dengan tindakannya membersihkan Bait Allah dari sarang kapitalis: celakalah kamu kalau imanmu bersifat seasonal alias moody!

Masih ingat perumpamaan tentang talenta? Yang dikasih lima talenta mengembangkannya jadi sepuluh. Yang dikasih dua talenta melipatgandakannya jadi empat. Akan tetapi, apa yang dibuat dia yang punya satu talenta? Dia gak lulus tes potensi akademik! Kalau ada soal deret angka 5-10-2-4-1-…, apa yang seharusnya diisikan pada titik-titik itu jika pilihannya 0,1,2, dan 3? Dia isi 1! Artinya? Dia tak menangkap pola pelipatgandaan. Dia maunya pola itu baru berlaku kalau talentanya dua atau lima. Dia maunya berusaha kalau ada fasilitas dari luar. Dia terus merasa diri jadi korban, dan akhirnya malah tak berbuat apa-apa!

Nak, broken home bukan alasan buatmu untuk menempatkan dirimu sebagai korban yang pantas dikasihani. Jangan minta dikasihani oleh dunia ini! Itu hanya akan berujung pada aneka perang. Kamu akan menyalahkan atau bahkan menteror, menyerang ibu atau ayahmu dan serangan itu menimbulkan lingkaran setan: ibu atau ayahmu merasa semakin rapuh dan malah benar-benar jadi tak mampu membantumu. Bukan karena mereka tak mampu, melainkan karena kamu terus menerus menganggap diri sebagai korban dan kamu menyalahkan apa saja dan siapa saja padahal kamu tak berbuat apa-apa!

Janganlah kamu berpikir bahwa hidupmu ini tanggung jawab orang lain. Orang lain bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan sejauh hidupnya berhubungan dengan hidupmu, ia dituntut bertanggung jawab seturut talentanya, bukan seturut kemauan wudel-mu. Kalau kamu tak juga menerima ini, bukan hadiah broken home lagi yang kamu terima, melainkan juga broken spirit, dalam arti roh yang ada dalam dirimu jadi mandul, gak berfungsi karena kamu menghimpitnya dengan ideologimu. Kamu mau membunuhnya, bahkan kamu mau membunuh Tuhan dalam batinmu.

Mungkin kamu sukses, kamu bunuh Tuhan dalam hatimu dan kamu merasa diri sebagai pemenang: gak ada Tuhan, gak perlu lagi ke gereja, ngapain sembahyang, Tuhan gak eksis. Eaaaa…. itu kan dalam dirimu. Bisa kamu bunuh juga Tuhan yang mencari jalur dalam batin orang lain? Dalam udara, air, api, semesta? Aku gak yakin. Kamu tahan nafas di air satu menit aja dah kejet-kejet!

Iman yang gak memuat pertobatan hidup takkan berbuah, seperti pohon ara yang dikutuk Yesus. Ini jenis broken spirit yang berbuah: Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk redam takkan Kaupandang hina, ya Allah.


JUMAT BIASA VIII
27 Mei 2016

1Ptr 4,7-13
Mrk 11,11-26

Jumat Biasa VIII B/1 Tahun 2015: Gereja Mandul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s