Gereja Mandul

Judul posting ini dimaksudkan sebagai warning bahwa Gereja ada dalam bahaya mandul. Semoga tidak disalahpahami seolah-olah penulisnya tak cinta Gereja. Sebaliknya. Justru karena cinta Gereja, saya bisa dan mau menyampaikan kritik terhadap Gereja (tentu termasuk diri saya sendiri di dalamnya). Inspirasinya datang dari teks Injil hari ini. Langsung terasa aneh bahwa Yesus mengutuk pohon ara yang tak berbuah (padahal berdaun lebat). Lha wong memang jelas itu bukan musim ara berbuah kok! Peristiwa itu terpahami jika kita melihat peristiwa lain sebagai konteksnya: Yesus ‘membersihkan Bait Allah’. Pengutukan pohon ara mengantisipasi pembersihan Bait Allah yang pada hemat Yesus tidak menghasilkan buah. Kok isa ya Yesus menilai bahwa Bait Allah itu tak menghasilkan buah, wong peziarah yang datang itu banyak sekali dan orang umat Israel juga pasti tiap hari besar berbondong-bondong ke sana?

Mari lihat kisahnya lebih detil. Sebelum masuk Yerusalem sebagai Mesias, Yesus sudah melakukan observasi sampai ke Bait Allah. Karena sudah malam, ia dan rombongannya kembali ke Betania, dan baru esok harinya kembali lagi ke Yerusalem. Sebetulnya ya lucu juga Markus menceritakan bagaimana Yesus merasa lapar: apa bukannya mereka sudah sarapan dulu sebelum meninggalkan Betania untuk kembali ke Yerusalem? Laparnya Yesus ini tampaknya lebih bersifat metaforis (sebagaimana dikatakan rekan peziarah muslim yang saya jumpai waktu saya hidup menggelandang) dan tampaknya Markus menempatkan kisah kecil ini sebagai isyarat atas apa yang akan terjadi dalam kepemimpinan di (Bait Allah) Yerusalem, yang seharusnya menghasilkan buah-buah rohani tetapi didapati mandul. Kemandulan itu tak bisa ditimpakan pada hirarki saja, tetapi juga seluruh bangsa yang ikut andil menyumbat peran Bait Allah itu (bdk. wacana kehancuran Yerusalem yang diprediksi Yesus pada Mrk 13,1-37).

Tindakan Yesus membersihkan Bait Allah tak perlu ditafsirkan secara naif sebagai gerakan moral Yesus belaka untuk mengembalikan fungsi Bait Allah (sebagaimana Beato Oscar Romero merebut kembali gereja yang dijadikan barak militer dulu). Sikap Yesus jauh lebih radikal: ia menyasar kerohanian yang hanya terdiri dari ritual lahiriah (apalagi mau mengembalikan ritual seperti zaman jebot) yang landasannya bisa jadi rapuh karena memperlakukan relasi pribadi dengan Allah bukan dalam kerangka cinta cuma-cuma, melainkan dalam kerangka jual-beli di pasar (agama). Sebutan Bait Allah sebagai sarang penyamun bermakna ganda: (1) para pemimpin agamanya rebutan kolekte, duit persembahan (ya kan butuh uang untuk bayar tetek bengek demi pelayanan kepada umat juga) dan karena itu (2) mereka juga merampok secara spiritual kesempatan umat untuk mengenal Allah secara genuine. Ngeri kan, ngerampok duit umat dengan dalih rohani. Apa buahnya? Silakan lihat-lihat sendiri ya.

Tuhan, bantulah kami supaya semakin memahami Tubuh-Mu sebagai Bait Allah, sebagai kerajaan cinta dan pengampunan, persaudaraan dan perdamaian. Semoga pemahaman ini juga membantu kami untuk menghasilkan buah rohani  yang sepadan. Amin.


JUMAT MASA BIASA VIII 1/B
29 Mei 2015

Sir 44,1.9-13
Mrk 11,11-26

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s