Perjumpaanku dengan Muslim (2)

Dalam perjalanan mengemis antara Purwokerto dan Slawi, di suatu siang yang terik, saya dan teman seperjuangan mengemis saya benar-benar tak berkutik karena panasnya memang gak ketulungan. Beberapa hari sebelumnya kami disegarkan oleh hujan di sepanjang jalan tetapi hari itu kami dihibur oleh fatamorgana genangan air di atas aspal akibat teriknya matahari.

Ngobrol sepanjang jalan tentu bukan pilihan yang baik selama kami mengemis. Lagipula, saya juga jarang melihat pengemis ngobrol selama perjalanan bahkan dengan sesama pengemis. Mungkin mereka berdiskusi setelah seharian menjalankan profesi, tetapi tidak selama mengemis. Selain karena kelayakan, kami juga tak mungkin ngobrol karena terik matahari itu sendiri sudah menguras tenaga kami. Semakin banyak energi terbuang tentunya jika kami ngobrol. Maka, kami berjalan dalam diam, mengamati jalan, menatap ke depan.

Di kejauhan saya lihat seorang pemuda berjalan kaki sendirian berlawanan arah dengan kami. Kami sama-sama berjalan di kanan jalan, dan itulah yang saya yakini: berjalan kaki di Indonesia ini, apalagi kalau tidak ada trotoar, sebaiknya di sebelah kanan jalan, bukan di kiri. Dengan begitu orang bisa mengantisipasi kendaraan yang melaju dari depan. Kalau jalan di kiri jalan, orang lebih susah melihat kendaraan yang melaju dari arah belakang. Yang benar memang berjalan kaki di sebelah kiri, tetapi yang baik itu di sebelah kanan. Loh, kok malah bahas lalu lintas sih?!

Saat semakin dekat, saya lihat pemuda tadi menyeberangi jalan dan tak saya duga ia menghampiri kami dan menyapa dengan sangat ramah. Ia berjalan bersama kami (berarti berbalik arah) dan membuka pembicaraan. Aduh, apa orang ini gak haus dan lelah ya? Saya toh menyambutnya dengan antusias.

Pemuda ini bercerita banyak mengenai daerah yang rupanya baru saja ia lewati dan kiranya kami akan melaluinya beberapa jam ke depan. Dalam penjelasannya beberapa kali ia melontarkan kalimat bahwa banyak orang di tempat yang dia sebutkan itu mengalami kehausan. Bisa saya bayangkan bagaimana tandusnya tempat yang dia sebutkan itu dalam cuaca seperti sekarang ini; barangkali daerah kapur atau tanah padas.

Akan tetapi, setelah menyimak lebih lanjut, mengertilah saya ‘kehausan’ yang dimaksud oleh pemuda itu. Dugaan itu dikuatkan dengan kata-kata yang selanjutnya ia pakai: dengan beberapa kata Arab ia menyampaikan keprihatinannya mengenai situasi umat di sana, yang tentunya ialah umat Islam. Banyak umat Islam yang kiranya tidak menghayati iman mereka. Itulah yang, saya yakin, dia maksudkan sebagai ‘kehausan’ tadi.

Akan tetapi, mungkin saya melakukan kesalahan. Saya tidak ingin berlama-lama tinggal dalam prasangka yang keliru, maka saya katakan kepadanya bahwa kami Katolik. Maksud saya sih supaya pemuda itu tak terus menerus memakai Bahasa Arab. Apa lacur, reaksinya di luar dugaan saya. Ia menatap kami dengan sorot mata yang aneh dan tanpa sepatah kata pun ia berhenti, berbalik arah meninggalkan kami.

Mungkin ia mengira kami, yang sedang belajar meminta-minta, juga sedang melakukan dakwah. Sayang bahwa sebuah wacana yang sebetulnya menarik itu akhirnya berhenti hanya karena kata ‘Katolik’ tadi. Saya tersadar bahwa pada tahap tertentu memang agama benar-benar menjadi penyekat. Itu takkan terjadi jika orang beragama sungguh-sungguh masuk pada kedalaman imannya, yang justru bisa melampaui perbedaan agama. Apa boleh buat, apa mau dikata, berlaku juga suatu tahap perkembangan iman.

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s