Iri Hati Gak Boleh… Katanya

Saya termasuk murid yang lamban karena terus-terusan merasa belum ngeh kenapa Yesus benar-benar sedemikian skeptis terhadap orang-orang Farisi! Apa toh salah mereka itu sehingga Yesus terus menerus berkonfrontasi? Apa sih susahnya memberikan tanda yang diminta orang Farisi, wong tinggal mak cling begitu saja bisa? Kenapa kayaknya jadi susah banget memberi tanda mukjizat yang diminta orang Farisi?

Ada satu kesamaan antara orang Farisi dan para murid: hatinya bebal sehingga susah ngerti. Bedanya, mekipun bego’, para murid tetap berupaya untuk mengerti; sedangkan kaum Farisi, mungkin lebih pintar sedikit, rupanya tak punya sikap dasar untuk mengerti. Sikap dasarnya mirip seperti sosok Kain dalam bacaan pertama. Mereka punya naluri membunuh orang lain yang mereka rasakan jadi ancaman. Jadi, tak peduli apa pun yang dilakukan Yesus, orang Farisi toh akan tetap mencari celah atau landasan untuk membunuhnya.

Iri hati kaum Farisi bermuara pada pemuliaan diri sendiri: jangan sampai ada orang lain yang mendapat posisi lebih baik dariku! Aku mesti diperhitungkan, jangan sampai orang lain melebihi aku! Iri hati para murid, kalau bisa disebut iri hati, bermuara pada kepemilikan kapasitas atau kemampuan untuk memahami kebajikan. Maka, para murid, alih-alih meminta tanda (yang memang sudah berkali-kali dibuat), meminta pencerahan untuk memahami tanda itu.

Begitulah: dalam posisi menonjol, orang Farisi akan menghabisi pihak-pihak yang mereka rasakan sebagai ancaman; dalam posisi inferior, mereka juga akan menghabisi orang-orang potensial. Sebaliknya, para murid dalam posisi inferior akan mencari pengertian dari orang lain yang diyakininya memiliki kebijaksanaan hidup, dan dalam posisi menonjol, mereka akan membagikan kebijaksanaan hidup itu kepada segala bangsa tanpa memaksa atau membunuh karakter pihak lain.

Ya Tuhan, mohon rahmat untuk lebih menjadi murid-Mu daripada waton beroposisi. Amin.


SENIN BIASA VI B/1
16 Februari 2015

Kej 4,1-15.25
Mrk 8,11-13

Posting Tahun Lalu: Basic Attitude toward Conversion

2 replies

  1. Ada sikap konstruktif dan konfrontatif dalam usaha bersama membangun dunia baru. Kedatangan Mesias bukan sebagai tukang sulap dan tukang sihir tapi terlebih untuk “mengajar”. Iri hati merupakan kekaguman negatif yg dapat dikelola seorang murid sebagai motivasi untuk lebih maju dalam pemahamannya tentang janji Allah soal keselamatan.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s