Di Mana Political Will

Jadi orang sakit, dari dulu sampai sekarang, rupanya tidak recommended ya. Secara medis biaya pengobatan semakin mahal dan bahkan secara religius suatu penyakit tertentu membuat orang ‘tidak halal’. Bacaan pertama menunjukkan bagaimana imam mesti menyatakan orang sakit kusta sebagai najis dan orang sakit kusta itu sendiri mesti berpakaian compang-camping, dengan rambut terurai, menutupi mukanya sambil berseru-seru ‘najis’. Ia harus tinggal di luar perkemahan, tempat tinggal warga pada umumnya. Ia tetap najis sampai dinyatakan sembuh oleh imam.

Maka dari itu, kisah penyembuhan orang kusta hari ini bukan semata-mata soal orang kusta disembuhkan dari sakitnya, melainkan soal bagaimana Yesus menghadapi paham yang berkembang dalam masyarakat saat itu mengenai sakit kusta sebagai hukuman Allah (sehingga mesti ditanggapi secara prosedural dengan aneka aturan agama). Imam menjadi dokter yang mampu melakukan diagnose sekaligus hakim yang bisa memutuskan apakah seseorang najis atau tidak. Karena itu, imam jugalah yang punya kewenangan untuk menyatakan seseorang sembuh dari sakit yang menajiskannya. Dengan kata lain, imam itulah yang memutuskan apakah seseorang bisa diterima kembali dalam masyarakat.

Dalam bacaan Injil dikisahkan seorang kusta datang pada Yesus sebagai imam partikelir yang metode kerjanya berbeda dari imam-imam lainnya. Ia tetap menghargai prosedur hukum, tetapi sekaligus melanggarnya persis karena dia terlibat dalam penyembuhannya sendiri. Seharusnya dia gak boleh menyentuh orang sakit kusta itu, tetapi ia menjamahnya untuk menyembuhkan.

Dalam arti itu, Yesus memang provokator. Dia memprovokasi orang untuk berpikir: menjamah orang najis itu untuk memasukkan kembali dalam persekutuan dengan umat yang lainnya. Ia menyambut kembali kemanusiaan yang termarjinalisasi, berdosa, terekskomunikasi, dan terbuang. Ia menyambut kemanusiaan itu bukan secara formal belaka, melainkan sungguh merealisasikan kemungkinan bahwa kemanusiaan yang rusak itu bisa diperbaiki.

Dialog antara orang najis dan Yesus sendiri menarik. Alih-alih mohon kesembuhan, ia malah seolah-olah menggurui: kalau kamu mau, kamu pasti bisa menyembuhkan aku. Dalam pernyataan itu sebetulnya sudah ada benih kepercayaan sekaligus: kehendak Allah sekaligus adalah daya kuasa-Nya. Kalau Tuhan mau, Dia pun mampu merealisasikan kemauan-Nya.

Dalam diri orang kusta itu seolah sudah ada semangat detachment. Ia berdoa dengan bebas dan Tuhan menanggapinya pula dalam kebebasan. Karena itulah, bisa muncul kesan anarki: kadang doa orang dikabulkan, kadang juga tidak dikabulkan; lha wong suka-suka Dia mau mengabulkan atau tidak! Yesus memanifestasikan kuasa Allah: ia mau dan orang sakit kusta itu sembuh.

Orang beragama malah lebih sering munafik: ia mau begini begitu, tapi tindakannya disetir oleh kepentingan egoistiknya sendiri. Mereka tak sungguh-sungguh punya political will yang akhirnya berujung pada marjinalisasi kelompok minoritas, lemah, dan tersingkir.


HARI MINGGU BIASA VI B/1
Minggu, 15 Februari 2015

Im 13,1-2.44-46
1Kor 10,31-11,1
Mrk 1,40-45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s