Hatinya Mana?

Seorang anak perempuan mungil melakukan kenakalan yang menyulut kemarahan ayahnya. Rupanya kemarahan sang ayah adalah tumpukan dari rasa kesal yang dipendamnya atas kenakalan anaknya sendiri. Anaknya berlari menjauhi ayahnya, mengelilingi meja. Tanpa kesulitan, sang ayah berhasil mencengkeram tangan anaknya.

Kegeraman sang ayah terasa dari kuatnya cengkeramannya terhadap tangan lembut si anak perempuan mungil itu, yang sangat ketakutan. Dalam sekejap, getaran kemarahan yang bersentuhan dengan ketidakberdayaan si anak mungil itu berubah menjadi daya pengampunan yang mengubah cengkeraman kuat menjadi pelukan hangat. “Maafkan ayah, Sayang, tapi jangan kamu ulangi ya.”

Kegeraman Tuhan pada bacaan pertama akhirnya berujung pada pengampunan juga. Air bah memang tetap terjadi, tetapi Tuhan meminta Nuh menyelamatkan sebagian makhluk yang biar bagaimanapun tetaplah Dia cintai.

Kegeraman Yesus dalam Injil Markus hari-hari ini diceritakan dengan kebebalan orang-orang di sekelilingnya. Kaum Farisi meminta tanda bukan untuk percaya, melainkan untuk menghabisi Yesus. Murid-murid sudah melihat tanda, tapi tetep gak ngerti juga. Memang tidak mudah juga memahami tanda itu, yang adalah sosok Yesus sendiri, persis karena mereka membaca ungkapan-ungkapan Yesus secara letterleijk, tidak membiasakan diri untuk membaca yang tersirat. 

Problemnya, kadang kala orang memang larut pada determinisme tertentu: gak ada orang lapar yang berfilsafat, orang lapar ya cari makan! Murid-murid Yesus memang lupa membawa bekal roti, sehingga jadi sensitif soal makanan. Maka, ketika Yesus omong supaya hati-hati terhadap ragi (pengaruh pola pikir) orang Farisi dan Herodes, mereka segera ribut soal kelupaan membawa roti bekal mereka.

Fokus berlebihan terhadap eksterioritas (rupa, bentuk, prosedur, tatanan, kuantitas) memang cenderung membutakan orang dari pengenalan akan Allah yang mahahadir, menyulitkan orang untuk mengenali tanda. Orang gagal paham, juga di hadapan drama politik yang terpampang di depan. Semoga semakin banyak orang yang tidak lebay terhadap eksterioritas dan kembali pada hati nuraninya untuk melihat kenyataan kebenaran sesungguhnya. Amin.


SELASA BIASA VI B/1
17 Februari 2015

Kej 6,5-8;7,1-5.10
Mrk 8,14-21

Posting Tahun Lalu: You Miss The Point, Bro’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s