Ijazah Palsu, Mau?

Yesus gak punya ijazah, baik asli maupun palsu; asalnya pun dari daerah Galilea yang konon didiami orang-orang temperamental; ia juga bukan dari keluarga suku Lewi yang biasanya jadi imam pemimpin ritual agama (Yahudi). Kok bisa ya orang tanpa ijazah ini mengajar dengan begitu sederhana dan jebulnya banyak orang terpukau oleh ajarannya tentang Allah? Wajarlah para imam, ahli Taurat, dan orang Farisi menanyainya,”Anda itu dapat kuasa mengajar teologi dari mana? Punya ijazahkah?” Waduh, cilaka…

Otoritas Yesus jauh lebih keren daripada otoritas yang muncul dari ijazah kw1 mana pun. Hanya saja, ia gak bisa menyatakannya secara langsung kepada para pemimpin agama. Tak kondusif suasananya. Waktunya belum tiba. Tapi Yesus cerdik: ia membuat analogi dengan pertanyaan mengenai Yohanes Pembaptis, apakah legalitas pelayanannya diperoleh dari kesepakatan demokratis umat atau dari Allah. Jawaban atas pertanyaan itu akan langsung menghakimi sikap mereka sendiri.

Kalau bilang kuasanya dari manusia, mereka tentu diserang orang banyak yang memercayai Yohanes Pembaptis sebagai nabi. Nota bene: kuasa nabi, tidak seperti raja dan imam, dipercaya berasal dari Allah sendiri; Sabda Allah hadir melalui mulut para nabi: sabda kebenaran, keadilan, kesucian, kesetiaan, cinta, pengampunan, belas kasih, pertobatan. Tapi, justru itu masalahnya. Kalau mereka bilang kuasa Yohanes Pembaptis berasal dari Allah, mereka sudah dengan sendirinya terbengong-bengong mengapa tidak memercayai kenabian Yohanes Pembaptis! [Lha piye jal, kata-katanya itu tajam, menunjukkan kebenaran yang menyakitkan bagi mereka sendiri je.]

Pertanyaan Yesus membongkar wajah asli para pemuka agama (berikut kroni-kroninya): hipokrit! Mereka tak mau mengambil posisi alias oportunis. Pilihannya cuma dua tapi malah nambahi alternatif pilihan yang gak mutu: “Wah, ndak tau ya…” Karena mereka tak bisa autentik atas sikap mereka sendiri, Yesus tidak mau menjawab pertanyaan mereka, tetapi dari analoginya jelas: kuasanya berasal dari Allah, alias dia pun nabi seperti Yohanes Pembaptis.

Nabi diutus untuk membangun kembali kebenaran dalam jantung relasi manusia dengan Allahnya. Kebenaran dan keselamatan itu datangnya dari Sabda Allah, bukan dari kultus atau ritual yang dipimpin oleh para imam Lewi, misalnya. Ritual penting untuk mengembalikan kebenaran dalam hati manusia, tetapi jika praktiknya dilandasi semangat legalistik belaka, malah mengungkung orang pada rubrik. Pada saat itu, ritual menjadi seperti ijazah palsu yang dibuat dengan bargaining beberapa pihak tertentu yang menjunjung klerikalisme.

Sekitar dua tahun lalu, Paus Fransiskus menyampaikan poin penting yang kurang lebih berbunyi begini. Kalau tak ada kenabian dalam diri umat Allah, ruang kenabian yang kosong itu akan direbut oleh klerikalisme. Justru klerikalisme inilah yang dulu menyodorkan pertanyaan kepada Yesus: kamu melakukan semua ini atas dasar apa, mana hukumnya?
Dan ingatan akan janji dan harapan untuk berkembang direduksi semata pada masa sekarang, bukan masa lalu atau masa depan yang penuh harapan. Sekarang ini pokoknya yang legal: kalau sesuai hukum, teruskan saja.
Akan tetapi, ketika legalisme itu meraja, Sabda Allah absen dan umat Allah menangis dalam hati karena tak ‘menemukan’ Allah: mereka merindukan kenabian
.

Tuhan, kami mohon rahmat-Mu supaya hati kami semakin terluput dari hipokrisi. Semoga dengan bantuan rahmat-Mu kami dapat menjadikan hati kami seperti hati-Mu untuk menjalankan fungsi kenabian-Mu. Amin.


SABTU BIASA VIII 1/B
30 Mei 2015

Sir 51,12-20
Mrk 11,27-33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s