Broken Heart

Ini juga lanjutan posting kemarin, Broken Spirit, Nak, tetapi isinya bukan lagi nasihat. Aku mengundangmu berefleksi. Apa yang perlu direfleksikan? Pertama, rasa perasaanmu sebelum membaca teks Kitab Suci, pada saat membacanya, dan setelah membacanya. Aku tak tahu apa perasaanmu. Mungkin malas, bingung, blank, skeptis, pesimis, tak percaya, atau mungkin juga malah sok tahu, menggebu-gebumu, penuh harapan, bersemangat.

Ngapain sih mesti melihat rasa perasaan dalam tiga periode waktu itu? Untuk menimbang-nimbang kemungkinan gerak roh dalam batinmu sendiri to ya! Coba kalau sebelum baca teks kamu malas, saat baca juga cuma malas adanya, dan setelah membaca juga adanya cuma rasa malas dengan intensitas yang sama dengan kemalasan sebelum baca teks tadi. Itu artinya tak ada gerakan dalam batinmu berkenaan dengan rasa perasaan. Bisa jadi kamu mati rasa. Tetapi, andaikan saja, setelah membaca teks itu kamu merasa semakin malas, intensitasnya semakin besar, gak perlu menilai itu buruk atau baik, tanyakan saja mengapa jadi semakin malas.

Pertanyaan itu bisa dijawab dengan elemen kedua: pikiran apa yang berkecamuk selama tiga periode itu? Ada hubungannya dengan teks atau cuma lanturan pikiran karena punya problem patah hati, misalnya? Kalau tak terkait dengan teks, ya sebaiknya selesaikan saja dulu di luar doa atau meditasi, tanya pada konselor atau psikolog atau mbah gugel. Pikiran yang direfleksikan di sini semestinya adalah ide yang muncul karena teksnya sendiri. Misalnya dalam teks hari ini kamu melihat orang-orang yang mendebat Yesus itu sudah seperti lawan-lawan Ahok yang berpatokan pokoknya asal Ahok kalah dah! Malas dah ngadepin orang-orang kayak gitu!

Itu terkait dengan elemen ketiga: dorongan kehendak, niat suci apa yang muncul? Barangkali karena teks hari ini kamu justru semakin malas: gada gunanya, percuma masuk ranah politik, sia-sia ngajari anak ndablek. Lalu refleksikan saja ide itu: apa betul sia-sia, apa tolok ukurnya menyebut sesuatu sia-sia, mengapa orang mesti berorientasi pada hasil dan kalaupun orientasi pada hasil itu baik, apa hasil itu harus diukur secara material, atau bagaimana?

Jika tiga elemen itu sungguh diolah, niscaya ada output yang bertengger dalam batinmu. Output itu gak harus berupa pengetahuan atau niat baru, tetapi bisa juga peneguhan niat suci, penguatan, endorsement. Kalau tiga elemen itu tak pernah dipedulikan, orang jadi gak bebas. Mari lihat wujud ekstremnya: orang menyiksa binatang, orang kerasukan setan malas, ada wanita digilir (ronda po digilir?), cangkul masuk vagina (hiiiih….), dan lain-lainnya, termasuk mereka yang petentang-petenteng menyandang jabatan pelayan publik untuk memperkaya diri dan memupuk gengsi.

Teks hari ini menunjukkan ahli agama yang rempong dengan persoalan otoritas tetapi poinnya ialah hati mereka itu uatos alias keras dan tak ada celah terbuka sehingga tak pernah muncul pengakuan dari mereka bahwa yang dibuat Yesus, lawan mereka itu, memang sesuatu yang baik yang berasal dari Allah. Seperti mereka, aku membutuhkan a broken heart, yang terbuka pada tangan-tangan Allah untuk merendanya. Hanya dari broken heart aku mengenali kerapuhan diriku, berani meminta maaf, dan mau menebus kerapuhan dengan kesetiaan iman kepada Allah yang tak terukur dengan materi itu.

Tuhan, tambahkanlah iman kesetiaanku pada-Mu. Amin.


SABTU BIASA VIII
28 Mei 2016

Yud 17.20b-25
Mrk 11,27-33

Sabtu Biasa VIII B/1 Tahun 2015: Ijazah Palsu, Mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s