Broken Bread

Hari ini Gereja Katolik merayakan Tubuh dan Darah Kristus, yang tentu saja tak terpahami dalam konteks agama lain jika tak ditangkap dalam kerangka simbolik relasi Allah dan manusia. Mari risaukan judul yang terkesan agak maksa ini. Broken bread dalam Gereja Katolik sudah langsung terasosiasikan dengan kisah institusi yang ditradisikan dalam perayaan Ekaristi: Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan membagikannya kepada para murid seraya berkata bla bla bla.

Kita ingat slogan “hidup berbagi”. Indah, tapi bisa jadi klise kalau kita tak terus menerus menafsir ulang untuk memperkayanya. Bisa jadi orang mendewakan slogan ‘hidup berbagi’ sedemikian lupa sehingga rupa eh… kebalik, sedemikian rupa sehingga lupa pada syaratnya: bahwa hidup itu mesti dipecah-pecahkan dulu alias broken.

Teks Injil hari ini kerap membuat orang gagal fokus: orang segera tertarik pada ‘penggandaan roti’ daripada mukjizat yang sebenarnya. Ada beberapa kisah serupa dalam Injil dan gak klop satu dengan yang lainnya. Artinya, kisah ini gak bisa dipahami secara literal sebagai reportase peristiwa historis dua ribu tahun lalu. Ini bukan soal gak percaya bahwa Yesus bisa melakukan itu, melainkan soal mengerti teks Kitab Suci secara proporsional. Seluruh teks itu ditulis setelah peristiwa Yesus wafat dan bangkit, persis untuk memahami kembali sosok Kristus bagi jemaat pengikut Kristus saat itu yang hidup dalam pengejaran. Mereka menimba kembali inspirasi rohani dari pengalaman bersama Yesus, maka, pasti ada unsur-unsur yang disisipkan untuk kepentingan penguatan jemaat.

Konteks perikop Injil ini terlihat pada ayat awal: Yesus menjelaskan kepada orang banyak apa itu Kerajaan Allah, dengan contoh konkret pengalaman mereka saat itu. Kasusnya jelas: ada banyak orang yang pasti lapar saat sunset itu. Njuk gimana dong? Para murid menyodorkan proposal supaya orang banyak itu pergi saja ke desa untuk kebutuhan pangan dan papan. Bukankah setiap orang mesti bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri? Itu cara para murid melepaskan diri dari tanggung jawab sosial mereka: serahkan saja hidup ini pada survival of the fittest, siapa cepat dia dapat, siapa berduit dia menang, atau siapa kuat dialah yang punya akses pada resources.

Yesus menolak proposal itu. Kerajaan Allah bukan mekanisme pasar dengan dasar hukum penawaran dan permintaan. Pemenuhan kebutuhan dasar orang banyak itu mesti ditata. Kalau tidak, ya mesti perangnya, karena perut kenyang memuaskan binatang, tetapi tak pernah memuaskan keinginan orang. Para murid mesti melibatkan diri di situ!

Mereka lalu mencoba melihat keadaan: cuma ada lima roti dua ikan, gak cukup, kecuali kalau kita beli makanan dan kita bagi-bagikan kepada mereka! Itu proposal yang dilandaskan pada logika ‘sedekah’ atau ‘amal’ dari pihak yang berduit: Corporate Social Responsibility. Barangkali ada dalam kepala mereka juga ide trickle down effect, yang kaya memberikan remah-remah kekayaan mereka sehingga yang miskin bisa kenyang dan mapan. 

Yesus juga menolak proposal itu, bukan karena sedekah itu jelek, melainkan karena Kerajaan Allah bukan perhitungan ekonomis belaka. Ia menunjukkan kisi-kisi Kerajaan Allah itu. Ia meminta supaya orang banyak itu berkumpul dalam kelompok sekitar 50 orang. Menarik bahwa kata yang dipakai dalam teks ini adalah Κατακλίνατε, yang menurut tetangga saya yang berbahasa Yunani lebih dekat pada ‘berbaring miring’ daripada ‘duduk’. Ini juga simbolik banget: orang-orang itu diharapkan menempatkan diri seperti orang merdeka yang kalau makan ya berbaring miring, dan murid Yesus mesti menempatkan diri sebagai pelayan bagi orang-orang merdeka itu.

Apa yang mesti dibuat? Ya manfaatkan semua resources yang ada itu, berikan kepada Yesus dan Yesus mengingatkan semua saja bahwa sumber daya ini datangnya dari Allah secara cuma-cuma dan itu pasti cukup untuk semua orang. Masalahnya, orang tak bisa mengerti kebutuhan sesamanya ketika semua mencari jalan sendiri. Kelompok 50-an orang itu memungkinkan perjumpaan yang membuat setiap orang bisa ngerti kebutuhan sesamanya dan pengikut Kristus terlibat dalam perjumpaan macam itu yang membuat setiap orang secara bebas menerima dan membagikan sumber daya yang ada padanya.

Maka, mukjizatnya bukan bahwa Yesus menggandakan roti atau bahwa rotinya jadi buanyak, melainkan bahwa setiap orang yang mengikuti Kristus (apapun aliran atau agamanya) mengadopsi logika cinta yang memungkinkan suatu ‘tukar kado’ karena penghayatan hidupnya sendiri sebagai hadiah dari Penguasa Semesta. Sayang bahwa sebagian orang menyadari diri mendapat karunia/talenta dan menukarnya seturut hukum ekonomi atau bisnis. 

Tuhan, semoga cinta-Mu meneguhkan hidupku sebagai roti yang pantas dipecah-pecah dan dibagi-bagikan. Amin.


HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS C/2
29 Mei 2016

Kej 14,18-20
1Kor 11,23-26
Lu
k 9,11b-17

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus B/1 Tahun 2015: Awas Takhayul
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus A/2 Tahun 2014: Tubuh Kristus kok Dimakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s