Surat Tertutup untuk Ahoy

Maaf ya, Pak, saya punya software yang fasilitas autocorrect-nya rada lebay. Nama Anda tak pernah tertulis secara benar. Coba saya ketik lagi: Ahoy Ahoy Ahoy…. nah, kan, tetap saja meleset! Apa jangan-jangan memang Anda ini semakin banyak penantangnya ya sampai software komputer saja ogah menampilkan nama Anda?

Saya bukan penantang Anda, tapi juga bukan pendukung Anda (KTP sudah saya cabut enam tahun lalu). Saya adalah pendukung Pancasila dan saya kira, Anda juga pendukung Pancasila, dan sesama pendukung Pancasila tentu dilarang saling mendahului. Mungkin stiker ‘Sesama bus kota dilarang saling mendahului’ itu sudah tak populer lagi seiring pembaharuan moda transportasi yang Anda lakukan. Anda berhasil menerjemahkan roh stiker itu dalam sistem transportasi yang membuat sopir angkot itu terkondisikan untuk tidak saling mendahului. Beberapa sopir atau organisasi sopir mungkin belum kapoy… loh… koy jadi kapoy ya? Padahal saya ketik kapoy loh… kapoy, kapoy, kapoy… Wah, ini berarti bukan sentimen software terhadap nama Anda ya, Pak; alias, bukan berarti penantang Anda semakin banyak.

Mungkin penantang Anda gak bertambah banyak, cuma intensitasnya sampai tahun depan akan semakin menggila, dan untuk itulah saya menulis surat ini. Sekadar mengingatkan Anda pada suatu perumpamaan dalam Kitab Suci. Seseorang membuka kebun anggur dan tempat pengolahannya, komplet dengan pagar dan menara jaga dan ia sewakan kebun itu kepada para penggarap. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada para penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu. Eh, mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Ia menyuruh hamba yang lain tetapi hamba itu juga mereka pukul sampai luka kepalanya. Banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal satu orang anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia dengan pikiran,”Anakku pasti akan mereka segani.” Tapi apa lacur, para penggarap itu berkata,”Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, dan warisan ini menjadi milik kita.” Mereka menangkapnya dan membunuhnya…

Pak Ahoy, sebagai pendukung Pancasila, Anda adalah anak tunggal pemilik kebun anggur itu, dan posisi Anda sekarang ini semakin empuk rasanya untuk para predator, mulai dari partai, media, sampai anak-anak yang jadi tameng. Tentu, tanpa saya ingatkan, Anda sudah sangat paham akan hal ini, dan saya salut bahwa Anda masih bertahan dengan baik.

Tetapi bukan itu sih poin saya. Kalau Anda buka posting kemarin (broken bread), Anda lihat bahwa proposal para pendukung Pancasila itu ditolak semua, bahkan proposal yang tampaknya baik. Kenapa? Karena semuanya dilandaskan pada logika manusiawi: ekonomi, hukum, manajemen, politik, dan sebagainya. Proposal itu baru feasible jika ‘logika cinta’ dikedepankan, mengatasi formalisme program Anda, deadline dan sebagainya. Rasa saya, Anda mendapat kepercayaan dan kekeliruan satu dua pasti masih bisa ditolerir, apalagi kalau hanya meleset satu semester atau setahun. Akan lebih runyam lagi kalau demi deadline itu Anda melanggar kaidah ‘logika cinta’. Logika cinta melibatkan semua orang dengan cara elegan, bukan dengan kekerasan. Susah? Jelas.

Semoga para pendukung Pancasila diberi kesabaran dan kejelian untuk merealisasikan cinta dalam sistem yang sudah telanjur korup. Amin.


SENIN BIASA IX C/2
25 Mei 2016

2Ptr 1,1-7
Mrk 12,1-12

Senin Biasa IX B/1 Tahun 2015: Maaf, Hukum Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s