Kirik nan Suci

Saya belum bosan menegaskan bahwa kesucian takkan pernah bisa direduksi sebagai seperangkat perilaku moral, bahkan yang secara objektif diterima sebagai tindakan moral terbaik sekalipun. Kenapa? Silakan lihat video dari Youtube ini:

Kita diposisikan untuk mengagumi anjing yang bisa menjaga orang tertentu dari serangan orang lain yang hendak mencederai tuannya, entah yang hendak mencederai itu semula baik-baik padanya atau tidak. Sejauh tuannya itu memang orang baik-baik yang membutuhkan penjagaannya, tentu saja anjing itu melakukan pekerjaan yang baik.

Begitulah, pekerjaan baik tidak identik dengan kesucian seseorang karena pekerjaan baik itu pun bisa dibuat oleh anjing atau hewan lainnya yang terlatih untuk melakukan seperangkat perbuatan baik. Kalau hewan bisa dilatih, orang juga kiranya bisa dilatih melakukan seperangkat perbuatan baik itu. Contoh: di Jepang, sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan dengan antrian, membersihkan sendiri perkakas yang mereka pakai, menghargai orang lain dengan aneka sopan santun. Apakah itu baik? Ya baik! Akan tetapi, sekali lagi, kesucian bukanlah seperangkat tindakan moral yang baik itu.

Belum dhong, Romo. Njuk gimana orang mengukur kesucian kalau bukan dari tindakan moralnya? Bukankah akhirnya yang kelihatan itu adalah tindakan moral seseorang, dan bukan motivasinya?

Eaaaa…. pertanyaannya tepat, dan syukur kalau sudah menangkap maksud posting This Is Called Spirituality. Mengukur kesucian orang lain memang bukan pretensi blog ini. Gereja Katolik sih punya langkah-langkah untuk itu tetapi biasanya diterapkan untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Prosedurnya macam-macam dan melibatkan kompetensi sains (bahkan dari saintis yang mengklaim diri ateis). Prinsipnya saya kira mempertimbangkan motivasi, tindakan, dan akibatnya. Dalam pedoman pembedaan roh, Ignasius mengundang orang untuk meneliti disposisi batin sebelum orang mengambil keputusan, keputusannya sendiri, dan disposisi setelah mengambil keputusan.

Lha ya itu, pertanyaan saya, Romo. Bukankah kalau orang menimbang dengan pembedaan roh, ujung-ujungnya juga adalah tindakan moral tertentu?
Eaaaa….. betul lagi, tetapi tindakan moral itu sendiri gak cukup jadi landasan untuk menyebut diri atau orang lain suci, meskipun tindakannya itu buaik buanguet. Ya itu tadi, kirik pun bisa dilatih. Ada video lain yang merekam kirik ngantri masuk rumah, tetapi kesucian orang tak bisa cuma dinilai dari budaya antri, budaya sederhana, dan sebagainya. Perlu dilihat konsistensi proses ke sananya. Konsisten terhadap apa? Dalam surat Petrus disebutkan kriterianya: sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.

Jadi, kalau di awal, di tengah, dan di akhir ada relasi positif dengan ‘Dia yang kudus’ itu, bisa jadi orang menghidupi kesucian, betapapun tindakannya sepele: memungut sampah di kali, memberi snack kepada yang lapar, dan sebagainya. Loh kok dibilang “bisa jadi”? Lha iya, kan ini tadi mau melihat tindakan moral yang gak bisa jadi tolok ukur kesucian. Jadi, bahkan kalau ujungnya (tindakan moral) baik, kita tunggu dulu apakah orang itu jadi arogan atau sombong karena tindakannya. Begitu jadi takabur, lenyaplah kesuciannya karena tak ada konsistensi kerendahan hati.

Bisa jadi motivasi orang buruk, tetapi justru dalam proses tengah dan akhir ada pertobatan dan hasilnya tindakan moral yang baik. Sucinya dia bukan karena tindakan moral baiknya, melainkan karena pertobatannya. Semoga paham. Amin.


SELASA BIASA VIII C/2
24 Mei 2016

1Ptr 1,10-16
Mrk 10,28-31

Selasa Biasa VIII B/1 Tahun 2015: Apa Upahnya?
Selasa Biasa VIII Tahun 2014: Sense of Security

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s